Transaksi Cinta Kasih

Hari ini, rasanya ada sesuatu yang benar-benar putus di dalam dadaku. Bukan karena perkara nominal atau hitung-hitungan uang, tapi karena sebuah siklus menyakitkan yang kembali terulang, yang akhirnya menampar kesadaranku: sampai kapan pun, sekeras apa pun aku berdarah-darah untuknya, hubungan kami pada akhirnya tak lebih dari sekadar transaksi.


Semuanya meledak saat uang klaim asuransi kesehatannya cair. Asuransi yang preminya mati-matian kubayar dengan menyisihkan gaji sejak awal aku bekerja, adalah satu-satunya hasil dari sekian banyak pengeluaran tak bersisa yang aku tanggung selama ini. Niatku, uang itu murni untuk menyelesaikan urusan administrasi hibah rumah. Tapi balasannya? Ibu menuntut porsi yang sangat besar darinya. Alasannya bukan sekadar soal butuh, tapi karena dia ingin memegang uang tunai, ingin "menikmati" uang asuransi itu untuk beli vitamin, dan untuk membayar biaya yayasan pemakaman.



Satu hal yang membuatku benar-benar muak adalah alasan tentang yayasan itu. Padahal, aku sendiri yang sebelumnya mencari tahu soal yayasan tersebut untuk meringankan bebannya. Aku tahu persis iuran bulanannya sangatlah kecil. Lalu bagaimana bisa ibu menggunakan alasan kain kafan untuk menuntut hak yang sebegitu besarnya dariku? Terlalu banyak kebohongan yang dia buat hanya untuk mengais receh dariku. Sama halnya dengan urusan rumah di Bandung; setiap kali ada penyewa, ibu selalu berbohong soal uang sewa yang dia terima. Selama ini aku tahu, tapi aku memilih diam. Tapi kali ini, aku sudah muak dengan segala manipulasi ini.


Yang paling menghancurkan hati adalah tuduhan bahwa aku "tidak ikhlas" dan "perhitungan".


Ibu seolah lupa, aku sudah merelakan tiga tahun masa produktifku hanya untuk mengurusnya. Selama tiga tahun itu, aku melepaskan peluang karir dan mimpiku. Dan apa yang kudapatkan sebagai gantinya? Bukan rasa terima kasih, melainkan makian dan cercaan yang tak terhitung jumlahnya. Ibu bahkan tak segan merendahkanku di tempat umum, meneriakiku di depan orang banyak hanya agar aku merasa malu dan semakin merasa bersalah. Dia ingin dunia melihatku sebagai anak yang buruk, padahal akulah yang berdiri paling depan saat dia kesakitan.


Kalau mau bicara soal "hitungan", pernahkah ibu berpikir berapa biaya yang harus ia keluarkan jika ia harus menyewa jasa caregiver profesional sekaligus tenaga administratif untuk mengurus semua keperluan medisnya selama tiga tahun ini? Bukan maksudku untuk menagih, tapi aku ingin ibu punya bayangan betapa setitik pun upayaku selama ini tidak pernah dihargai.

Bayangkan, jika selama tiga tahun itu ibu harus membayar orang lain untuk melakukan apa yang kulakukan, berapa banyak harta yang harus ibu jual? Aku melakukan itu semua bukan karena aku punya uang lebih, tapi karena aku masih berusaha memenuhi baktiku. Tapi di mata ibu, semua itu selalu dikalahkan oleh materi yang bisa langsung ia gunakan untuk bahagia bersama teman-temannya. 

Luka batin ini bukan sekadar sedih biasa. Aku sampai harus menjalani psikoterapi lebih dari satu tahun karena berkali-kali dihantam serangan psikosomatis. Napasku sering mendadak sesak, bahkan tubuhku sampai kejang karena sistem sarafku sudah tak sanggup lagi menahan tekanan mental ini.

Suamiku, yang tak tega melihatku hancur secara perlahan, pernah mencoba menengahi. Dia memberanikan diri berbicara pada ibu, menceritakan soal sesi psikoterapiku dan serangan fisik yang kualami. Harapan suamiku sederhana: semoga setelah mendengar kenyataan itu, ibu bisa sedikit melonggarkan tekanannya padaku.

Tapi apa balasannya? Alih-alih merangkulku, ibu malah menggunakan rasa sakit mentalku sebagai senjata baru. Dia bilang semua sesak dan kejang yang kualami itu terjadi semata-mata karena aku "tidak ikhlas" menjalani peranku, karena pikiranku yang terlalu sempit. Di matanya, hancurnya mentalku bukanlah akibat dari sikapnya, melainkan karena keburukan hatiku sendiri.

Di titik itulah aku sadar. Ibu hanya mau kembali bersikap baik jika aku menyerah dan memberikan apa yang dia mau. Dan seperti biasa, seluruh tolak ukurnya selalu bermuara pada materi.

Polanya tidak pernah berubah sejak dulu. Ingatanku tiba-tiba ditarik mundur ke masa kuliah, saat aku tumbang terkena tipus. Proses pemulihanku saat itu memang memakan waktu agak lama. Bukannya dirawat dengan kehangatan layaknya seorang anak yang sedang sakit, ibu malah marah besar. Ia marah karena merasa sudah mengeluarkan uang untuk membawaku ke dokter, jadi seharusnya aku berangsur sembuh. Saat tubuhku terbaring lemas dan kepalaku pusing tak tertahankan, ia malah menuduhku pemalas karena terlalu banyak tidur. Rasa sakit fisikku sama sekali tidak valid di matanya; aku lama pulih akibat malas bergerak. Intinya yang jadi persoalan utama adalah biaya yang sudah ia keluarkan tak membuahkan hasil.

Mengingat itu semua membuat dadaku selalu terasa sesak. Sebagai anak tunggal, seumur hidupku dibebani oleh begitu banyak tuntutan. Namun, sekeras apa pun aku berusaha memenuhi ekspektasinya, pada akhirnya kasih sayang dan keberadaanku selalu diukur dengan seberapa banyak materi yang sudah ia keluarkan untuk membesarkanku. 


Di ujung cerita, apa pun yang kulakukan, aku akan selalu dilabeli sebagai anak yang tidak tahu adab dan tidak paham terima kasih.

Malam ini, aku makin menyadari bahwa: aku tidak akan pernah menang melawan orang yang menolak melihat kebenaran. Demi keselamatanku sendiri, demi napas, mental, dan keluarga kecilku, akhirnya kublokir nomor ibu dan tante yang membantunya menyerangku. Aku memutus akses mereka untuk terus menyakitiku.

Ibu sekarang masih sibuk mengunggah pesan serangan ke status WhatsApp untuk mencari simpati publik, dan menunjukan betapa busuknya hatiku. Biarlah. Aku sungguh lelah berada dalam siklus yang manipulatif ini. Besok, kalau dia sakit lagi, aku tidak mau mengurusnya. Biarkan orang-orang yang selama ini dia banggakan yang turun tangan.

Padahal, kalau boleh jujur dari relung hati yang paling dalam, permintaanku tidak pernah muluk-muluk. Di balik semua lelah dan luka ini, aku cuma ingin satu hal. Aku cuma ingin merasakan disayangi oleh orang tua satu-satunya yang kumiliki saat ini dengan tulus. Disayangi tanpa syarat. Tanpa hitung-hitungan materi. Tanpa kata tapi...

Sekarang, biarkan aku mencoba memunguti sisa-sisa kewarasan dan hidupku yang hilang. Hidup yang tak pernah benar-benar kumiliki untuk diriku sendiri. Dan kepada diriku yang selalu berusaha kuat, malam ini aku ingin membisikkan: kamu sudah bertahan melampaui batasmu. Kamu berhak untuk berhenti, merangkul dirimu sendiri, dan memilih bahagia.

Si Lemah

Hai!! Jadi ceritanya kemarin sempat nulis di thread tentang mempersiapkan sweet closure atau "akhir yang indah", sudah sempat dibahas juga sih di postingan sebelumnya soal "Duka yang Asing" terus masih aku bahas lagi di thread..

Kebetulan belakangan ini aku lagi punya banyak waktu luang, jadi lumayan sering refleksi diri..
Bukan karena merasa paling benar ya, justru sebaliknya—aku sering takut kalau selama ini aku merasa benar, padahal sebenarnya salah..
Yah, namanya juga manusia, rasanya wajar banget kalau nggak pernah luput dari salah, kan?

Satu hal yang aku sadari, dari dulu aku paling nggak suka dikasihani orang lain..

Alasannya sederhana: karena aku merasa hidupku ini masih sangat penuh berkah, bahkan di titik terendah sekalipun..

Aku sempat share video soal ini di reels instagram...
Tujuannya memang buat "romantisasi" hidup, sekadar pengingat buat diri sendiri kalau ternyata begitu banyak kasih sayang dan bantuan yang aku dapatkan selama ini..
Bahkan, saking banyaknya, nggak semua bisa masuk ke dalam durasi reels itu..

Jujur, kadang aku merasa nggak enak setiap kali berbagi rasa syukur (gratitude)..
Selalu ada ketakutan kalau ada kebaikan orang yang terlewat untuk disebut..
Tapi, sejujurnya boleh nggak sih kalau kita bilang bahwa di setiap fase hidup, pasti ada satu-dua peran yang terasa paling "terang" di tengah masa yang paling gelap?

Tanpa bermaksud mengecilkan peran orang lain, mohon izin ke-"lela legawa"an untuk aku yang mungkin masih kurang dalam mengucap terima kasih ini..
Beberapa nama dan peran memang sudah membekas sebegitu dalamnya dalam menolong aku di masa itu..
Terima kasih banyak, ya..
Sungguh! Terima kasih..
Hidupku tidak akan terasa sebermakna ini tanpa bantuan dari kalian semua yang pernah menyentuh hati dan hidupku..

Dari setiap refleksi ini, aku makin sadar kalau aku memang banyak kurangnya..
Aku bukan orang yang selalu baik..
Ada kalanya prioritas dan pilihan yang aku ambil akhirnya menyakiti orang lain—baik secara sadar maupun nggak, sengaja maupun nggak sengaja..
Sekali lagi, maaf ya..
Maaf, karena saat itu aku membuat pilihan-pilihan yang kurang bijak yang secara langsung maupun tidak langsung menyakiti..

Seringkali aku memilih untuk menyelamatkan diri sendiri dulu, yang mungkin bagi orang lain terlihat kurang pantas atau nggak nyaman..
Tapi nggak apa-apa, aku terima segala kekesalan atau ketidaksukaan itu sebagai konsekuensi dari pilihan-pilihan yang aku buat..
Bukankah memang pada dasarnya, setiap pilihan kita akan selalu membawa efek (nyaman ataupun nggak nyaman) bagi orang lain?

Aku pun sadar pernah beberapa kali ghosting atau mengabaikan orang lain..
Bukan karena benci, tapi asli, sungguh, saat itu aku merasa nggak punya tenaga, kapasitas, atau bahkan kemampuan untuk selalu membuat sebuah "sweet closure"..
Akhirnya aku meyakini kalau beberapa hal memang nggak harus selalu selesai..
Ada hal-hal yang ternyata nggak apa-apa kalau dibiarkan menggantung begitu saja..

Layaknya alur cerita dalam buku "tentukan sendiri ceritamu", hasilnya akan berubah tergantung pilihan yang kita buat sebelumnya..
Nggak selalu happy ending, ada yang plot twist, ada yang alurnya mulus, tapi ada juga yang "darderdor" penuh drama..
Namanya juga hidup, kan?

Penuh dengan kejutan..

Soal peran kita yang kadang jadi antagonis atau protagonis, harusnya nggak perlu jadi beban banget, sih..
Karena sejatinya, kita ini cuma cameo di dunia ini..
Numpang lewat, mungkin cuma kesorot punggungnya doang sepersekian detik, terus hilang..
Kita bukan siapa-siapa, bukan pusat dunia, dan mungkin banyak yang nggak sadar akan keberadaan kita..
Kita cuma butiran debu di alam semesta raya ini..

Jadi, ya sudahlah..

Di dunia yang sudah sangat padat dan bising ini, mari kita fokus ke diri sendiri dan orang-orang yang kita sayang..
Karena pada akhirnya, kita hanya akan saling memiliki arti jika kita saling memilih dan saling menyayangi..

Nggak apa-apa kok kalau sesekali jadi "si lemah", tapi jangan lupa untuk selalu sayang dan lemah lembut sama diri sendiri, ya..

Dirimu sangat berarti, utamakan dirimu sebelum membagi bagian dirimu kepada dunia..