Namaku memiliki arti "Bunga Ilmu Pengetahuan yang Sempurna". Sebuah doa berat
yang disematkan oleh Ayah. Dulu, hidupku terasa sesempurna arti nama itu.
Sebagai anak tunggal dari seorang insinyur sipil BUMN, aku tumbuh di atas roda
koper yang bergulir dari satu kota ke kota lain.
Kenangan tentang Ayah bukan
hanya sekadar kertas kerja di meja, melainkan debu proyek dan deru mesin. Aku
ingat betul rasanya diajak mengunjungi berbagai lokasi proyek yang sedang ia
tangani. Di antara tiang-tiang beton yang menjulang dan para pekerja yang sibuk,
aku kecil menggenggam tangan Ayah dengan bangga, merasa aman di tengah
hiruk-pikuk pembangunan itu. Bahkan salah satu potret masa kecil yang masih tergambar
jelas di kenanganku adalah fotoku dengan setelan rok dan topi proyek. Bagiku,
Ayah adalah insinyur yang membangun duniaku.
Namun, dunia itu runtuh dalam
sekejap saat aku liburan kenaikan kelas 3 SD.
Liburan kenaikan kelas yang semestinya
menjadi momen yang membahagiakan bagi sebagian besar anak. Bahkan untukku sendiri, biasanya liburan
kenaikan kelas juga merupakan masa yang paling kunantikan karena artinya ayah akan
mengambil cuti panjang, dan kami akan jalan-jalan ke luar kota.
Juli 1993
menjadi cerita liburan kenaikan kelas yang berbeda untukku.
Sebuah kecelakaan
tunggal yang tragis terjadi. Nenek dan Om Deni menghembuskan napas terakhir
mereka di tengah perjalanan menuju ke RS, tak sempat mendapatkan
pertolongan medis lebih lanjut. Kenyataan pahit ini menorehkan trauma yang begitu dalam bagi Ibu,
hingga seumur hidupnya, Ibu hampir tak pernah mau menginjakkan kaki atau sekadar
mengunjungi seorang pun di RSUD kota T. Baginya, tempat itu adalah monumen
kehilangan.
Di tengah kekacauan itu, teman dari Om—yang kelak menjadi
satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan tunggal tersebut—justru masih
terbaring tak sadarkan diri. Praktis, tak ada harapan darinya untuk mengabarkan
berita ini. Namun Ayah, dengan sisa-sisa kesadaran terakhirnya di kondisi
kritis, masih berjuang untuk memberikan kartu nama dan kontak keluarga kepada
orang yang menolongnya. Itu adalah bakti terakhir Ayah untuk memastikan kami
mendapat kabar, sebelum akhirnya ia pun pergi menyusul Ibu dan Adiknya untuk
selamanya.
Saat kejadian itu, aku tidak sedang bersama mereka. Aku sedang pergi
bersama Uwak Ros—kakak perempuan Ibu yang kelak menjadi sosok ibu kedua
bagiku—ke Bandung untuk ziarah makam keluarga. Ibu pun sedang berada di tempat
lain, menghadiri acara bersama teman-temannya. Takdir memisahkan kami di hari
paling kelabu itu.
Aku ingat betul, malam itu hujan deras, sepulang dari Bandung
dan tiba di rumah Uwak Ros, kondisi di rumah itu sedang mati lampu. Dalam keremangan
itu, aku melihat sepupuku berbisik membisikkan sesuatu kepada orang tuanya. Ada
ketegangan yang menggantung di udara, namun aku terlalu kecil untuk
menerjemahkannya.
Esok paginya, aku diajak kembali ke Bandung menaiki bus.
Sepanjang perjalanan, Uwak Ros terlihat sibuk membaca koran. Ia menandai sebuah
berita dengan pena. Rasa ingin tahuku muncul, aku meminta izin untuk ikut
membacanya, tapi Uwak Ros melarang dan menjauhkan koran itu dariku. Ia berusaha
melindungiku dari berita duka yang tertulis di sana. Aku hanya diam, meski hati
kecilku mulai bertanya-tanya.
Sesampainya di Bandung, aku bertemu Ibu. Wajahnya
basah, matanya bengkak. Ia terus menangis saat memelukku, lalu dengan suara
bergetar ia menyampaikan kalimat yang mengubah hidupku: "Ayah sudah tidak bisa
bersama kita lagi."
Anehnya, aku tidak menangis. Tak ada air mata yang tumpah.
Aku hanya terdiam, mencerna kalimat itu dengan kebingungan anak-anak. Perlahan
aku melepaskan pelukan Ibu, keluar dari kamar, dan kembali bermain dengan
saudara sepupu yang lain seolah tak terjadi apa-apa. Mungkin itu caraku
menyangkal rasa sakit yang terlalu besar untuk kutanggung.
Setelah Ibu nampak
sedikit tenang, aku diajak pergi ke pemakaman. Di sanalah, untuk pertama kalinya
aku melihat nama Ayah tertulis di nisan kayu. Aku menatapnya lamat-lamat, namun
aku masih tidak menangis. Dari makam, aku dibawa ke rumah duka keluarga besar
Ayah. Semua saudara Ayah menangis. Mereka satu per satu memelukku dengan erat,
menumpahkan kesedihan mereka di bahuku. Bagaimana tidak, kehilangan tiga orang tersayang dalam waktu bersamaan, tentu bukan hal yang mudah dihadapi. Di sana, aku tetap tidak menangis. Aku merasa
sedih, tapi rasanya sulit sekali untuk percaya bahwa Ayah benar-benar tiada.
Rasanya, Ayah hanya sedang pergi dinas ke luar kota seperti biasa.
Sejak hari
itu, definisi "rumah" bagiku ikut hilang.
Dari anak emas yang hidup
berkecukupan, aku belajar menjadi "penumpang". Rumah peninggalan Ayah dijual,
uangnya kami tabung dan belikan rumah mungil yang lebih sederhana untuk masa
depan. Tapi kami tak langsung menempatinya. Aku dan Ibu memulai perjalanan
bertahan hidup kami dengan hati yang patah.
Mulai dari menumpang di rumah teman
Ibu, hingga akhirnya aku harus pindah ke Surabaya saat kelas 4 SD. Aku ikut Uwak
Suhiyar, kakak ipar Ibu yang merupakan seorang pilot AURI, untuk tinggal bersama
keluarga Uwak Mike, kakak pertama Ibu. Di tengah keluarga Uwak Mike inilah aku
belajar beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat disiplin dan teratur,
namun tetap terasa begitu hangat dan penuh kasih sayang.
Kelas 5 SD, aku sempat
kembali ke pelukan Ibu. Tapi itu tak lama. Kelas 6 SD, karena Ibu harus bekerja
dan sulit membagi waktu untuk menjagaku, aku dititipkan—lagi. Kali ini di rumah
wali kelasku. Lalu saat SMP, aku tinggal bersama keluarga kakak Ibu yang lain.
Aku tumbuh menjadi anak yang akrab dengan kesendirian. Sering ditinggal seorang
diri di rumah memang membentukku menjadi mandiri—bukan karena aku
menginginkannya, melainkan karena keadaan yang memaksa. Namun, ajaibnya aku
jarang sekali merasakan kesepian. Bagiku, "sendiri" tidak sama dengan "sepi".
Alhamdulillah, Allah Maha Baik yang selalu menempatkanku di tengah lingkungan
yang menyenangkan. Sejak kecil hingga kini, aku selalu dikaruniai
sahabat-sahabat berhati emas. Merekalah yang selalu ada, menjadi garda terdepan
yang siap memeluk dan menopangku setiap kali aku terjatuh atau kesusahan.
Kehadiran mereka membuatku sadar, meski Ayah telah tiada dan Ibu sibuk bekerja,
aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Syukurnya pula, Ayah meninggalkan bekal
pendidikan yang cukup, sehingga aku bisa melangkah dari satu jenjang sekolah ke
jenjang berikutnya tanpa beban biaya yang mencekik. Alhamdulillah, sejak SMP aku selalu
bersekolah di sekolah negeri (hingga biayanya tidak berat). Ketika SMP aku mulai ikut les dan bimbel. Ibu selalu berusaha untuk menopang pendidikanku. Namun sama sekali menentang untuk menopang gaya hidup. "Yang penting sekolah, belajar, biar jadi pinter" itu saja doktrin Ibu.
Salah satu tempat les yang berkesan bagiku adalah di LIA, di sana aku pernah mendapatkan
kesempatan les tanpa biaya karena mendapatkan nilai yang cukup baik. Lagi-lagi
bukan karena pintar, tapi karena aku memang menyukai pelajaran bahasa, ditambah
lagi dengan guru yang mengajarkan dengan atraktif hingga mudah dipahami dan teman sekelas yang membuat bersemangat dengan suasana
persaingan sehat serta menyenangkan. Dari LIA aku jadi memiliki sahabat yang
walaupun tak pernah satu sekolah namun tak pernah putus berkomunikasi hingga saat ini.
Lucunya aku merasa keberuntunganku akan nilai-nilai yang baik hanya berakhir hingga SMP saja. Saat berhasil masuk SMA negeri favorit, aku tak sanggup untuk bersaing dengan teman-teman yang kepintarannya jelas-jelas jauh di atasku.
Ujian lainnya
datang lagi saat aku kelas 2 SMA. Ibu menjalani operasi pengangkatan payudara.
Sesungguhnya masa itu cukup berat untukku ditambah dengan drama masa remaja yang
terasa bagai rollercoaster. Tuhan Maha Baik, penanganan cepat membuat
Ibu lekas pulih. Aku pun tidak terus terpuruk sedih karena dikelilingi
teman-teman baik yang selalu membuatku merasa cukup. Cukup, karena mereka selalu
berbagi denganku walau tak pernah kuminta. Cukup, untuk membuat hatiku terasa hangat saat berada di antara mereka.
Lulus SMA, tantangan baru menghadang. Ibu
berucap bahwa tangannya tak akan sanggup memapah biayaku jika aku masuk
universitas swasta. PTN adalah harga mati. Demi itu, dengan segala keterbatasan
ekonomi yang ada, Ibu tetap mengupayakan yang terbaik: mendaftarkanku ke
bimbingan belajar dengan program jaminan tembus PTN.
Jujur, aku sendiri tak
yakin dengan kemampuanku. Betapa tidak? Di SMA aku mengambil jurusan IPA, namun
di bimbel itu aku justru banting setir mengambil paket IPS. Jangan ditanya
bagaimana kacau-balau nilai-nilaiku saat itu. Segala hal yang ditempuh dengan
cara tidak linier dan jauh dari ideal itu membuatku merasa kecil. Namun, Allah
Maha Pembolak-balik keadaan. Di luar dugaan, aku lulus Ujian Nasional, lolos
Seleksi Nasional PTN, bahkan tembus Ujian Mandiri PTN. Tak ada setitik pun
kesombongan yang bisa kusematkan, karena aku yakin seyakin-yakinnya, semua
kelulusan itu murni berkat pertolongan Allah semata.
Di tahun 2003, aku lulus SPMB di jurusan Ilmu Komunikasi (pada sebuah PTN di Jawa Tengah), dan juga 2 program Diploma 3 via Ujian Mandiri (pada 2 PTN di Jawa Barat). Saat itu aku memilih program Diploma 3 pada PTN di Jawa Barat (yang sebenarnya masih dalam lingkup Jabodetabek), pertimbangannya karena khawatir jika terlalu jauh dari ibuku yang saat itu baru pulih.
Saat tahun 2004 aku memutuskan mencoba kembali peruntungan di SPMB (Universitas yang sama, Fakultas yang sama, namun jurusan yang berbeda). Alasan utamanya karena belajar bahasa asing memang tidak semudah itu. Alasan lainnya, biaya Diploma 3 lebih mahal dari Strata 1. Alhamdulillah, Allah masih memberiku rezeki untuk lolos SPMB lagi. Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku, meski harus mengulang kuliah. Dari 2 Jurusan itu aku mendapatkan banyak sahabat dan keluarga baru. Beberapa dari mereka bahkan menjadi kontak daruratku tiap kali aku merasa kesulitan.
Mulai dari awal kuliah D3 hingga pindah jurusan S1 di
PTN, siklus "menumpang" tentu saja berulang; kali ini di rumah sepupuku. Sepupuku yang selalu kukagumi dari aku kecil karena baik rupa dan pekertinya, Ia amat banyak memberikanku bimbingan hidup. Dengan pola hidup yang sering menumpang kesana kemari sedari kecil hingga dewasa, aku menyadari dinamika yang terjadi selama itu banyak menempa dan membentuk pribadiku.
Semester 7 di Strata 1 (2007), aku mendapat pekerjaan di kampus.
Dengan gaji itu, aku memutuskan untuk indekos. Alasan utamanya sederhana: aku
butuh ruang untuk skripsi, kuliah, bekerja, dan aku tak enak hati jika pulang
larut mengganggu sepupuku yang baru saja melahirkan. Mungkin seiring bertambahnya usiaku, aku merasa lebih "tahu diri" meski sebaik apapun sepupuku bertoleransi.
Takdir Allah membawaku
bekerja di sekolah internasional setelah wisuda, lalu loncat ke sebuah
perusahaan multinasional di bidang migas. Karierku berjalan stabil dengan
lingkungan kerja yang sangat menyenangkan. Bahkan saat pandemi melanda dunia, di
saat banyak orang kesulitan, aku justru mendapatkan kesempatan berpindah kerja
dengan penghasilan dan fasilitas yang jauh lebih baik.
Di masa awal bekerja di
perusahaan migas inilah, tergerak hatiku untuk mendaftarkan Ibu asuransi swasta khusus untuk rawat
inap. Pikiran utamaku, karena statusku sebagai anak tunggal dan antisipasi riwayat penyakit ibuku sebelumnya. Aku memilih paket termurah (dengan segala pertimbangan dalam menentukan prioritas keuangan). Aku mendaftar melalui sepupuku yang menjadi agen, dengan harapan
sederhana: jika terjadi hal tak diinginkan, birokrasinya bisa lebih mudah dan
lancar karena dibantu saudara sendiri. Sebuah keputusan yang kelak sangat
kusyukuri.
Setelah pandemi perlahan usai, sebuah realitas pahit itu kembali
menghantam. Ibu terindikasi kanker indung telur.
Jalan menuju diagnosis itu
tidaklah mudah. Berbekal saran dari Dokter Mova Aria—dokter kantor yang selalu
sabar menjawab konsultasi terkait kondisi Ibu—aku diarahkan untuk mencari dokter
kandungan subspesialis onkologi. Penelusuranku di internet bermuara pada satu
nama: Dr. dr. Iwan Kurnia Effendi, M.Kes, SpOG (K) Onk. Sengaja kupilih rumah
sakit baru dengan fasilitas menyerupai hotel, berharap kemewahan dan kenyamanan
itu bisa menyamarkan aroma rumah sakit yang mungkin memicu trauma Ibu.
Saat dokter memberikan diagnosis awal secara langsung kepada Ibu, Ibu tampak tidak terima. "Ibu tidak
merasakan sakit apa-apa!" sanggahnya. Penolakan itu memancing emosiku. Refleks,
aku marah di ruang periksa karena merasa Ibu mengabaikan fakta medis. Dokter
Iwan, dengan ketenangan seorang profesional, memanggilku kembali ke ruang
konsultasi secara terpisah. Ia menasehatiku tentang 5 stages of grieving (lima
tahapan kesedihan).
"Ibumu sedang di tahap penyangkalan (denial)," jelasnya
lembut. "Berikan Ibumu waktu."
Aku mencoba menahan ego, namun logikaku tetap
menuntut kepastian. "Dok, saya butuh arahan. Kira-kira langkah apa yang harus
saya lakukan, dan berapa batas waktu maksimal sebelum operasi sebaiknya
dilakukan?" tanyaku. Dokter bertanya apakah ibu memiliki asuransi, dan karena
pertanyaan itu aku langsung bergegas menghubungi sepupuku untuk mengurus administrasi yang mendukung
kepastian bantuan pengobatan.
Dalam jeda waktu itu, Ibu mencari jalur pengobatan
alternatif. Seorang Kyai menyarankan untuk menempuh jalur "kemo herbal" dan
melarang operasi. Beliau berkata kemungkinan kesembuhan medis hanya 50:50,
sedangkan alternatif mencapai 70:30. Angka-angka itu membuatku gentar, tapi
logika dan naluriku sebagai anak tunggal memberontak.
Aku memberanikan diri
menjawab, "Pak Kyai, jika terjadi apa-apa, yang paling hancur dan bersedih
adalah saya sebagai anak tunggal. Jika saya sudah mencari pendapat delapan
dokter berbeda dan semuanya menyarankan untuk mengangkat tumor dari rahim Ibu,
apakah boleh saya yakini itu sebagai petunjuk dari Allah juga?"
Argumen itu
memantapkan langkahku.
Kami memutuskan untuk operasi. Operasi dimulai jam 7 pagi
dan baru tuntas selepas salat Jumat. Dokter memperlihatkan jaringan organ yang
telah disterilkan kepadaku. Hatiku mencelos melihat tumor berdiameter 14,5
cm—nyaris sebesar kepala bayi—yang telah diangkat, beserta rahim dan organ
terdampak lainnya. Vonis itu kian berat: Stadium 3C. Perjuangan belum usai,
kemoterapi menanti.
Aku berusaha mencerna semua informasi itu sendirian di
lorong rumah sakit. Saat suamiku datang usai menunaikan salat Jumat,
pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya, menumpahkan
segala ketakutan. Setelah tangis itu reda, barulah aku mengumpulkan sisa
kekuatan untuk menyampaikan kondisi Ibu kepada keluarga besar dengan tenang.
Tabungan kerjaku cukup terkuras untuk biaya operasi. Sempat khawatir mengenai
perawatan lanjutan, aku kembali bertanya ke Dokter Iwan, apakah beliau menerima
BPJS. Alhamdulillah ternyata beliau menerima BPJS, di RSUD Kota T (yang
rasanya tak mungkin membawa ibu ke sana terkait traumanya) dan MRCCC Siloam
Semanggi. Aku langsung memilih MRCCC Siloam Semanggi dan meminta Dokter Iwan membuatkan
memo agar dalam mengurus administrasi BPJS, rujukan utama ibu bisa bermuara
kembali ke Dokter Iwan. Rasa syukurku meluap karena BPJS akhirnya bisa menjadi
penopang utama, ditambah asuransi swasta yang dulu kusiapkan lewat sepupuku,
membuat beban finansial terasa jauh lebih ringan. Kebiasaan hidup hemat dan telah belajar
investasi juga memberiku pegangan.
Di saat tabungan kerjaku berkurang itulah,
kesadaranku tersentil. Berkaca dari pengalaman Ayah yang meninggal secara
tiba-tiba dan Ibu yang kini berjuang melawan kanker, aku menjadi sangat
berhati-hati. Faktor risiko genetik dan ketidakpastian hidup tak bisa lagi
kuabaikan. Aku harus berpikir strategis. Maka, demi meminimalisir risiko dan
sebagai langkah mitigasi, aku memutuskan untuk mendaftar asuransi penyakit
kritis untuk diriku sendiri. Aku tak ingin, jika skenario terburuk terjadi
padaku, suami dan anakku harus mengalami kesusahan yang berat.
Saat itu, aku
merasa menjalani peran ganda yang sangat berat: ibu bekerja, istri, ibu dari
anak usia sekolah yang butuh perhatian akademis, sekaligus menjadi
caregiver tunggal untuk Ibu. Fisik dan mentalku punya batas. Aku
memutuskan resign. Kupikir, dengan berhenti bekerja, aku bisa mengatur
waktu lebih baik. Ternyata aku salah. Beberapa minggu setelah resign, suamiku masuk
rumah sakit karena DBD. Rasanya seperti dipukul bertubi-tubi. Syukurnya dana darurat yang
selalu kusiapkan menjadi penyelamat di saat genting itu. Alhamdulillah suamiku
pulih setelah 7 hari rawat inap dan 4 hari di HCU. Kami kembali selamat dari krisis
finansial (tentunya berkat Kuasa Allah lewat tangan-tangan orang baik yang membantu), namun krisis batinku baru dimulai.
Kondisi Ibu naik turun. Setelah
operasi, ternyata sel kanker masih aktif. Kami lanjut ke medis. Siklus kemo
kedua selesai, tapi gula darah Ibu tak terkontrol, dan kanker itu aktif lagi.
Perasaanku seperti rollercoaster. Aku sering sesak napas tanpa sebab,
tanganku gemetar. Aku lelah. Sangat lelah. Aku menarik diri dari pergaulan,
bahkan nyaris menyerah menyelesaikan tesisku. "Aku tak sanggup lagi," batinku.
Namun, di titik terendah itu, aku menyadari satu hal yang luar biasa: Allah
tidak membiarkanku berjalan sendirian. Ia mengirimkan bala bantuan melalui
cara-cara yang tak terduga.
Tiba-tiba, mantan atasanku di kampus menghubungi,
memberiku akses tempat penelitian yang sebelumnya buntu. Suamiku,
support system terbaikku, menggenggam tanganku erat dan meyakinkanku.
"Kamu bisa. Nggak perlu nilai sempurna. Selesaikan saja apa yang sudah kamu
mulai. Ini contoh yang baik juga buat Elmo nanti," katanya.
Hanya tiga bulan.
Waktu yang diberikan oleh Prodi sebagai kesempatan terakhir untuk menyelesaikan
tesisku.
Di sisa waktu yang sempit itu, aku diberikan dosen pembimbing tambahan.
Dosen pembimbing pertamaku sudah sangat baik, namun tuntutan idealisme
akademisnya terasa berat bagiku yang sedang limbung. Kehadiran dosen pembimbing
kedua, Pak Fariz, bagaikan oase. Beliau memberikan arahan yang realistis,
memahami kondisiku yang tidak stabil karena mengurus Ibu, dan memaklumi
kapabilitasku yang terbatas.
Dalam waktu yang sangat singkat itu, aku menjalani
sidang proposal dengan tulisan yang seadanya. Tentu saja, aku habis dilibas oleh
para penguji. Rasanya ingin menyerah saat itu juga. Namun, mantan atasanku yang
membukakan jalan ke tempat penelitian kembali mengingatkan, "Karya penulisan
yang baik adalah karya penulisan yang selesai."
Kalimat itu menamparku. Dengan
semangat tidak ingin mengecewakan tangan-tangan yang telah menolongku, aku
tertatih-tatih melanjutkan.
Kekagetan belum usai. Tak lama setelah sidang
proposal, jadwal sidang tesis tiba-tiba keluar. Waktunya sangat mepet. Di antara
sidang proposal, persiapan sidang tesis, dan revisi, kondisi Ibu justru sedang
naik turun tidak karuan. Aku hampir tidak punya waktu untuk diriku sendiri.
Otakku buntu. Semua hal benar-benar kukerjakan dengan satu modal nekat: berharap
belas kasih Yang Maha Kuasa untuk menolongku.
Sidang tesisku hancur lebur.
Banyak sekali pertanyaan penguji yang tidak bisa kujawab. Ingin rasanya aku
berteriak menyampaikan segala keterbatasanku, tentang Ibu yang sakit, tentang
lelah yang mendera. Tapi, rasanya itu tidak etis. Maka aku hanya diam, mencerna
segala kritik dan cecaran penguji dengan kepala tertunduk.
Ujian belum berhenti.
Waktu revisi mengejar, sementara kondisi Ibu memburuk lagi. Belum sempat revisi
kuselesaikan, pihak Prodi memintaku untuk segera mendaftarkan yudisium karena
masa studi yang hampir habis. Aku menurut saja, mendaftar dengan dokumen
seadanya. Namun, hal itu memicu kemarahan besar dosen pengujiku. Aku dibilang
lancang karena mendaftar sebelum revisi di-ACC.
Aku bingung, terjepit di antara
aturan administrasi dan etika akademis. Dadaku sesak, tubuhku kembali gemetar
hebat.
Di momen itulah, di ruang tunggu rumah sakit saat menemani Ibu
kemoterapi, pertahananku benar-benar runtuh.
Ibu sebelumnya tidak pernah
mengetahui bahwa aku melanjutkan S2. Aku sengaja menyembunyikannya, mungkin
karena tak ingin menambah beban pikirannya, atau karena hubungan kami yang kaku.
Aku hanya sempat memberitahunya sekilas bahwa aku sedang "kesulitan mengatur
waktu untuk diri sendiri".
Hari itu, aku tak sanggup lagi berpura-pura kuat. Aku
menangis di hadapan Ibu.
Untuk pertama kalinya, aku memberanikan diri menampakkan
sisi rapuhku. Melihatku hancur, hati Ibu yang biasanya keras perlahan melunak.
"Bu, maafin Lala," bisikku di sela tangis. "Lala sudah melakukan semua hal yang
bisa dilakukan, tapi Lala tahu ini semua bukan upaya terbaik. Semua yang ini hanya bare minimum untuk sekedar bertahan saja, Bu. Kalau
memang kelulusan ini bukan takdir Lala, Lala mohon keridhoan Ibu." Kata-kata itu
meluncur begitu saja. Pengakuan seorang anak yang lelah, yang hanya berusaha
bertahan agar tidak hilang ditelan badai.
Aku mencoba berpikir positif dan
memasrahkan segalanya. Jika memang aku tidak pantas untuk lulus, aku ikhlas. Aku
sudah berjuang sejauh yang aku mampu. Aku meyakini bahwa tugasku sebagai manusia
hanyalah berusaha sekuat tenaga, sedangkan hasil akhir adalah mutlak hak
prerogatif Allah SWT.
Di lembar persembahan tesis itu, aku mengutip Haruki
Murakami dari novel Kafka on the Shore. Kutipan tentang "badai". Karena
itulah yang kurasakan. Badai itu bukan datang dari luar, badai itu ada di dalam
diriku. Aku menutup mata, menutup telinga, dan berjalan menembusnya.
Berdarah-darah.
"And once the storm is over,
you won’t remember how you made it through,
how you managed to survive.
You won’t even be sure,
whether the storm is really over.
But one thing is certain.
When you come out of the storm,
you won’t be the same person who walked in.
That’s what this storm’s all about."
Kebenaran kutipan itu makin terasa saat kemo siklus ketiga Ibu. Aku bertemu
seorang yang sebelumnya hanya kukenal sebagai host jastip di instagram, sesama
pejuang kanker seperti ibu yang karena kuasa Allah kasurnya bersebelahan dengan Ibu. Kami beberapa kali berbagi cerita. Aku
kagum pada ketegarannya. Namun, takdir berkata lain. Saat aku hendak
menjenguknya saat mempersiapkan kemo berikutnya, suaminya meminta agar istri tersayangnya didoakan. Setelah Empat hari tak sadarkan
diri, sosok wanita tangguh itu berpulang. Meski tak kenal dekat, hatiku hancur.
Aku merasa berhutang pelajaran hidup darinya. Aku tak sempat mengucapkan terima kasih dan bahkan maaf. Kematian terasa begitu dekat, begitu nyata,
mengingatkanku pada kecelakaan Ayah dulu.
Di tengah duka dan lelah itu,
rasa syukurku menyeruak lebih besar.
Akhirnya, kabar itu datang. Aku lulus
yudisium.
Dengan nilai yang amat sangat jauh dari sempurna, tapi dengan rasa penuh
syukur yang tak terhingga. Kelulusan tentunya bukan karena kuatku, tapi karena Allah
yang Maha Baik mengelilingiku dengan orang-orang baik.
Aku bersyukur atas suami
yang sabar, anak yang menjadi pelita hati, dan lingkungan pertemanan yang
positif. Aku tersadar, selama fase menjadi caregiver yang menguras emosi,
teman-teman baikku selalu ada. Mereka yang sekadar bertanya kabar, mengirimkan
doa, atau mendengarkan keluh kesahku tanpa menghakimi. Lingkungan yang suportif
inilah yang menjadi bantalan saat aku jatuh, yang membuatku tetap waras dan
tegar berdiri meski kaki gemetar. Allah sungguh Maha Mengetahui kapasitas
hambanya, Ia titipkan kekuatan melalui senyum sahabat dan dukungan keluarga.
Teruntuk Suamiku dan anakku tersayang. Terima kasih telah menjadi rumah yang tak
pernah pergi. Terima kasih telah memelukku saat aku merasa hancur.
Teruntuk
Rahimahullah Ayah (Alfatihah untuk Beni Partamagraha Bin Bunanda Sastradiwirya) dan Ibu. Tesis ini adalah caraku melangitkan doa, agar nama
yang Ayah berikan bisa menjadi amalan yang tak putus. Dan untuk Ibu, semoga
kelulusan ini menjadi obat bahagia, penyemangat untuk sembuh dan kembali
merayakan hidup.
Hari ini, saat menatap cermin, aku melihat sosok yang berbeda.
Aku bukan lagi anak kecil yang selalu kebingungan mencari arah, karena kini aku
memiliki jangkar dan perahu yang kokoh—suami dan anakku—yang membuatku tak lagi
terombang-ambing. Meski begitu, aku sadar inner child-ku mungkin masih
dalam perjalanan untuk berdamai dengan pengalaman hidup, perlahan belajar
menerima luka yang tertoreh, serta memaklumi segala keterbatasan Ibu dalam
membesarkanku sendirian.
Aku bukan lagi orang yang terpaku diam, merasa kerdil
dan tidak berdaya oleh segala keterbatasanku. Bukan pula individu yang lapar
akan validasi orang sekitar.
Kini, aku hanya seorang hamba yang berusaha
menjalani hidup hari demi hari. Mensyukuri setiap detik napas dan berkah yang
masih Tuhan karuniakan.
Aku tetap bertahan, melangkah meski perlahan, bukan karena aku
hebat, melainkan karena aku percaya: selalu ada Kekuatan Besar yang akan
menjagaku.
Pelukan paling hangat ternyata datang dari diri sendiri yang akhirnya
berani berkata: "Terima kasih sudah bertahan, aku memaafkanmu.".