Mengetuk Pintu Langit

Ya Allah, 
Engkau tahu persis seberapa lelahnya hatiku belakangan ini. 
Ada banyak air mata dan rasa kecewa yang hanya bisa aku simpan sendiri, 
jauh dari hiruk-pikuk pandangan orang lain. 

Saat harapanku patah oleh keadaan 
atau perlakuan yang tidak menyenangkan, 
sering kali muncul rasa tak terima di dadaku. 

Tolong bantu aku meredam ego 
dan melepaskan kepahitan ini. 
Aku sadar, 
aku bukanlah manusia sempurna 
yang selalu tulus tanpa pamrih 
atau yang bisa dengan mudah memaafkan seketika, 
tapi aku sungguh ingin belajar 
Untuk mengikhlaskan apa yang memang di luar kendaliku.

Bantu aku agar tidak menaruh benci pada takdir-Mu, 
meski kenyataannya saat ini mungkin jauh 
dari apa yang selama ini aku semogakan. 
Karuniakanlah aku hati yang legowo
hati yang membumi, 
yang tidak mudah rapuh 
atau merasa menjadi pihak yang paling tersakiti. 

Aku sering merasa kecil, 
kalah, dan penuh kecemasan. 
Tolong peluk segala ketakutanku, 
tenangkan kepalaku yang sering kali bising 
oleh prasangka buruk dan ketakutan-ketakutan 
yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Ajarkan aku untuk lebih banyak berkaca.
Didiklah aku menjadi orang yang tidak mudah menghakimi, 
karena aku sadar betul aku pun masih penuh dengan cacat dan keliru. 
Jaga lisanku agar tidak menggores luka pada siapa pun, 
terutama di saat aku sedang kalut, lelah, dan marah. 

Jika kelak aku salah melangkah 
atau tanpa sengaja menyakiti sesama, 
tolong tegur aku dengan cara-Mu yang paling kasih, 
lalu tuntun aku pulang untuk berani mengakui kesalahan 
dan memperbaiki diri.

Ya Allah, 
Temani aku dalam proses yang tertatih ini 
sampai aku benar-benar mengerti dan rida terhadap maksud baik-Mu. 

Hari ini, perlahan aku mencoba memaafkan keadaan
bukan karena aku merasa diriku sudah baik, 
tapi karena aku hanya ingin bisa bernapas dengan tenang. 
Aku melepaskan apa pun yang selama ini memberatkan langkahku.

Izinkan aku menata kembali hidup ini dengan hati yang lebih lapang. 
Jadikan sisa waktuku di sini tidak sia-sia, 
setidaknya bisa membawa sedikit manfaat 
bagi mereka yang ada di sekitarku. 

Dan saat hujan reda, 
mampukan aku untuk tersenyum ikhlas 
mensyukuri apa pun yang telah Engkau siapkan di depan sana. 
Aamiin.

Jejak Rindu Tentang Ayah

Ada sebuah keyakinan yang selalu aku pegang erat: umur manusia memang rahasia Tuhan, namun jejak kebaikan yang ditinggalkan sepenuhnya adalah pilihan. Bagiku, sosok yang paling nyata menggambarkan kalimat itu adalah ayahku sendiri, Ir. Beni Partamagraha Sastramihardja. Beliau lahir di kota Majalengka yang tenang pada tanggal 30 November 1958. Meski jalan hidupnya di dunia ini terbilang singkat, cerita tentang perjalanan hidupnya selalu menjadi pelita yang menghangatkan hati.

Ayah adalah seorang insinyur yang mencintai profesinya sepenuh hati. Beliau menempuh pendidikan di Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1977, lalu terjun langsung membangun negeri. Pengalaman bekerja terlama beliau dihabiskan di PT WIKA (Wijaya Karya), tempat beliau berdedikasi penuh dan merintis karier yang, seingatku, sedang berjalan cukup cemerlang.

Profesi itu menuntut banyak waktu Ayah di luar rumah, jarang terlihat santai di ruang keluarga karena hari-harinya dihabiskan di lokasi proyek. Namun, beliau selalu membawa “nyawa” pekerjaannya pulang dan membuat kami ikut merasakan semangatnya. Tiap kali tiba di rumah, rasa lelahnya seolah menguap begitu saja. Dengan wajah berbinar, beliau bercerita tentang apa yang sedang dibangunnya, hingga tak heran jika beliau dicintai oleh seluruh keluarga besarnya.

Kecintaan Ayah pada pekerjaan konstruksi itu ikut mewarnai masa kecilku. Kehidupan kami sering berpindah-pindah, mengikuti ke mana pun proyek Ayah ditugaskan. Alih-alih menjadi beban, perpindahan itu justru menjadi petualangan tersendiri bagiku, apalagi saat beliau membawaku ke lokasi proyek. Melihat debu, alat berat, dan Ayah yang akrab dengan rekan-rekannya menyisakan memori manis dan rasa rindu tiap kali aku mengingat beliau.

Di balik kesehariannya yang identik dengan hal-hal teknis di lapangan, Ayah adalah suami yang baik bagi Ibuku, Rike, dan sosok yang begitu hangat bagiku, anak tunggalnya. Cara Ayah menyayangi keluarga sangat lekat dengan pola pikir seorang insinyur yang presisi: layaknya proyek besar yang memperhitungkan segala risiko, beliau menyiapkan tabungan dan jaminan pendidikan jauh sebelum aku mengerti apa itu sekolah. Berkat rancangan beliau, tidak ada kesulitan finansial yang membuat kami terpuruk sepeninggalnya, khususnya dalam biaya pendidikan hingga aku menyandang gelar sarjana.

Perjalanan Ayah di dunia ini harus berhenti saat usianya masih sangat muda, yaitu 34 tahun. Beliau berpulang pada tanggal 27 Juni 1993 dalam sebuah kecelakaan mobil tunggal, di tengah kariernya yang sedang bersinar. Kecelakaan itu juga merenggut Nenek dan Om dalam waktu yang bersamaan, sehingga aku, yang saat itu baru berusia delapan tahun, harus kehilangan tiga orang terkasih sekaligus. Namun, satu hal yang membuatku terus merasa takjub adalah bagaimana kehangatan pribadi Ayah menolak untuk hilang. Kasih sayangnya tak pernah surut ditelan waktu.

Bertahun-tahun kemudian, aku tak sengaja menemukan sebuah blog yang dikelola oleh teman-teman angkatan kuliah beliau. Dari sana aku menyadari bahwa Ayah tetap hadir dan hidup melalui memori teman-temannya di ITB, yang kehangatannya membuat mereka terus menaruh peduli pada kami.

Yang membuatku terharu, sosok Ayah ternyata terus dikenang, bahkan oleh mereka yang tak pernah bertemu dengannya. Suamiku, Budi, insinyur sipil juga, pernah bertemu salah satu kawan seangkatan Ayah di lokasi proyek tempatnya bertugas. Perkenalan singkat itu tumbuh menjadi persahabatan yang tulus, dan hingga kini keduanya masih saling menyapa serta menjaga silaturahmi, seolah ada benang yang menyambungkan dua insinyur lintas generasi. Begitu pula Elmo, cucu Ayah, yang tumbuh mengenal sosok kakeknya lewat kisah yang aku wariskan, meski keduanya tak pernah berjumpa. Cerita tentang Ayah yang mengalir dari kawan-kawan dan saudara-saudaranya selalu menghangatkan hati kami sekeluarga, seakan beliau terus hadir lintas generasi.

Sosok Ayah memberikan sebuah pelajaran nyata bagiku: waktu yang singkat pun akan tetap bermakna, asalkan kita bersungguh-sungguh memberi arti di setiap interaksi dengan sesama. Nasihatnya, serta harapan yang beliau sematkan pada arti namaku, adalah kompas hidupku. Terima kasih, Ayah, untuk semua yang telah kau titipkan. Al-Fatihah untuk Ayah.