Mengetuk Pintu Langit

Yaa Allah,
Aku berlindung kepada-Mu 
dari ketidakpastian masa depan,
dari langkah yang salah arah, 
dari keputusan yang keliru karena tergesa, 
dari keyakinan yang rapuh saat aku lelah menunggu jawaban-Mu.

Aku berlindung kepada-Mu 
dari perihnya kenyataan yang tak selalu seindah harapan, 
dari pahitnya kekecewaan yang diam-diam menggerogoti keikhlasan, 
dari luka yang tumbuh karena terlalu percaya pada manusia.

Engkau tahu persis seberapa lelah hatiku. 
Ada air mata dan rasa kecewa yang hanya bisa aku simpan, 
jauh dari hiruk-pikuk pandangan orang lain. 
Saat harapanku patah oleh keadaan
atau perlakuan yang tidak menyenangkan, 
sering kali muncul rasa tak terima di dadaku.

Lindungi hatiku dari kebimbangannya sendiri. 
Jangan biarkan ia terombang-ambing di antara takut dan harap. 
Tolong bantu aku meredam ego dan melepaskan kepahitan. 

Aku bukan manusia sempurna 
yang selalu tulus tanpa pamrih, 
atau yang bisa dengan mudah memaafkan seketika. 
Tapi aku sungguh ingin belajar untuk mengikhlaskan 
apa yang memang di luar kendaliku.

Kuatkan aku agar tetap teguh ketika yang kuinginkan tidak Kau berikan, 
dan ajari aku untuk percaya bahwa yang Kau pilih selalu lebih baik, 
meski kadang datang dengan air mata. 
Bantu aku agar tidak menaruh benci pada takdir-Mu, 
meski kenyataann mungkin jauh dari apa yang selama ini aku semogakan. 
Karuniakanlah aku hati yang legowo, 
hati yang membumi, yang tidak mudah rapuh 
atau merasa menjadi pihak yang paling tersakiti.

Aku berlindung kepada-Mu dari kebohongan manusia 
yang membawa kegetiran dalam hatiku

Aku sering merasa kecil, kalah, dan penuh kecemasan. 
Tolong peluk segala ketakutanku, 
tenangkan kepalaku yang sering kali bising oleh prasangka buruk 
dan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Ajarkan aku untuk lebih banyak berkaca. 
Didiklah aku menjadi orang yang tidak mudah menghakimi, 
karena aku pun penuh dengan cacat dan keliru. 
Jaga lisanku agar tidak menggores luka pada siapa pun, 
terutama di saat aku sedang kalut, lelah, dan marah. 

Jika kelak aku salah melangkah 
atau tanpa sengaja menyakiti sesama, 
tolong tegur aku dengan cara-Mu yang paling kasih, 
lalu tuntun aku pulang untuk berani mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

Yaa Allah,  
Jika harus kecewa, 
biarlah itu yang mendekatkan aku kepada-Mu. 
Sebab tak ada tempat berlindung yang paling aman, 
selain kembali dalam pelukan takdir-Mu.

Temani aku dalam proses yang tertatih, 
sampai aku benar-benar mengerti 
dan rida terhadap maksud baik-Mu.

Hari ini, 
perlahan aku mencoba memaafkan keadaan, 
bukan karena aku merasa baik, 
namun karena aku ingin bisa bernapas tenang. 

Aku melepaskan apa pun yang selama ini memberatkan langkahku. 
Izinkan aku menata kembali hidup ini dengan hati yang lebih lapang. 
Jadikan sisa waktuku di sini tidak sia-sia, 
setidaknya bisa membawa sedikit manfaat bagi mereka 
yang ada di sekitarku.

Mampukan aku untuk tersenyum ikhlas, 
mensyukuri apa pun yang telah Engkau siapkan di depan sana.
Aamiin.

Jejak Rindu Tentang Ayah

Ada sebuah keyakinan yang selalu aku pegang erat: umur manusia memang rahasia Tuhan, namun jejak kebaikan yang ditinggalkan sepenuhnya adalah pilihan. Bagiku, sosok yang paling nyata menggambarkan kalimat itu adalah ayahku sendiri, Ir. Beni Partamagraha Sastramihardja. Beliau lahir di kota Majalengka yang tenang pada tanggal 30 November 1958. Meski jalan hidupnya di dunia ini terbilang singkat, cerita tentang perjalanan hidupnya selalu menjadi pelita yang menghangatkan hati.

Ayah adalah seorang insinyur yang mencintai profesinya sepenuh hati. Beliau menempuh pendidikan di Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1977, lalu terjun langsung membangun negeri. Pengalaman bekerja terlama beliau dihabiskan di PT WIKA (Wijaya Karya), tempat beliau berdedikasi penuh dan merintis karier yang, seingatku, sedang berjalan cukup cemerlang.

Profesi itu menuntut banyak waktu Ayah di luar rumah, jarang terlihat santai di ruang keluarga karena hari-harinya dihabiskan di lokasi proyek. Namun, beliau selalu membawa “nyawa” pekerjaannya pulang dan membuat kami ikut merasakan semangatnya. Tiap kali tiba di rumah, rasa lelahnya seolah menguap begitu saja. Dengan wajah berbinar, beliau bercerita tentang apa yang sedang dibangunnya, hingga tak heran jika beliau dicintai oleh seluruh keluarga besarnya.

Kecintaan Ayah pada pekerjaan konstruksi itu ikut mewarnai masa kecilku. Kehidupan kami sering berpindah-pindah, mengikuti ke mana pun proyek Ayah ditugaskan. Alih-alih menjadi beban, perpindahan itu justru menjadi petualangan tersendiri bagiku, apalagi saat beliau membawaku ke lokasi proyek. Melihat debu, alat berat, dan Ayah yang akrab dengan rekan-rekannya menyisakan memori manis dan rasa rindu tiap kali aku mengingat beliau.

Di balik kesehariannya yang identik dengan hal-hal teknis di lapangan, Ayah adalah suami yang baik bagi Ibuku, Rike, dan sosok yang begitu hangat bagiku, anak tunggalnya. Cara Ayah menyayangi keluarga sangat lekat dengan pola pikir seorang insinyur yang presisi: layaknya proyek besar yang memperhitungkan segala risiko, beliau menyiapkan tabungan dan jaminan pendidikan jauh sebelum aku mengerti apa itu sekolah. Berkat rancangan beliau, tidak ada kesulitan finansial yang membuat kami terpuruk sepeninggalnya, khususnya dalam biaya pendidikan hingga aku menyandang gelar sarjana.

Perjalanan Ayah di dunia ini harus berhenti saat usianya masih sangat muda, yaitu 34 tahun. Beliau berpulang pada tanggal 27 Juni 1993 dalam sebuah kecelakaan mobil tunggal, di tengah kariernya yang sedang bersinar. Kecelakaan itu juga merenggut Nenek dan Om dalam waktu yang bersamaan, sehingga aku, yang saat itu baru berusia delapan tahun, harus kehilangan tiga orang terkasih sekaligus. Namun, satu hal yang membuatku terus merasa takjub adalah bagaimana kehangatan pribadi Ayah menolak untuk hilang. Kasih sayangnya tak pernah surut ditelan waktu.

Bertahun-tahun kemudian, aku tak sengaja menemukan sebuah blog yang dikelola oleh teman-teman angkatan kuliah beliau. Dari sana aku menyadari bahwa Ayah tetap hadir dan hidup melalui memori teman-temannya di ITB, yang kehangatannya membuat mereka terus menaruh peduli pada kami.

Yang membuatku terharu, sosok Ayah ternyata terus dikenang, bahkan oleh mereka yang tak pernah bertemu dengannya. Suamiku, Budi, insinyur sipil juga, pernah bertemu salah satu kawan seangkatan Ayah di lokasi proyek tempatnya bertugas. Perkenalan singkat itu tumbuh menjadi persahabatan yang tulus, dan hingga kini keduanya masih saling menyapa serta menjaga silaturahmi, seolah ada benang yang menyambungkan dua insinyur lintas generasi. Begitu pula Elmo, cucu Ayah, yang tumbuh mengenal sosok kakeknya lewat kisah yang aku wariskan, meski keduanya tak pernah berjumpa. Cerita tentang Ayah yang mengalir dari kawan-kawan dan saudara-saudaranya selalu menghangatkan hati kami sekeluarga, seakan beliau terus hadir lintas generasi.

Sosok Ayah memberikan sebuah pelajaran nyata bagiku: waktu yang singkat pun akan tetap bermakna, asalkan kita bersungguh-sungguh memberi arti di setiap interaksi dengan sesama. Nasihatnya, serta harapan yang beliau sematkan pada arti namaku, adalah kompas hidupku. Terima kasih, Ayah, untuk semua yang telah kau titipkan. Al-Fatihah untuk Ayah.