Si Lemah

Hai!! Jadi ceritanya kemarin sempat nulis di thread tentang mempersiapkan sweet closure atau "akhir yang indah", sudah sempat dibahas juga sih di postingan sebelumnya soal "Duka yang Asing" terus masih aku bahas lagi di thread..

Kebetulan belakangan ini aku lagi punya banyak waktu luang, jadi lumayan sering refleksi diri..
Bukan karena merasa paling benar ya, justru sebaliknya—aku sering takut kalau selama ini aku merasa benar, padahal sebenarnya salah..
Yah, namanya juga manusia, rasanya wajar banget kalau nggak pernah luput dari salah, kan?

Satu hal yang aku sadari, dari dulu aku paling nggak suka dikasihani orang lain..

Alasannya sederhana: karena aku merasa hidupku ini masih sangat penuh berkah, bahkan di titik terendah sekalipun..

Aku sempat share video soal ini di reels instagram...
Tujuannya memang buat "romantisasi" hidup, sekadar pengingat buat diri sendiri kalau ternyata begitu banyak kasih sayang dan bantuan yang aku dapatkan selama ini..
Bahkan, saking banyaknya, nggak semua bisa masuk ke dalam durasi reels itu..

Jujur, kadang aku merasa nggak enak setiap kali berbagi rasa syukur (gratitude)..
Selalu ada ketakutan kalau ada kebaikan orang yang terlewat untuk disebut..
Tapi, sejujurnya boleh nggak sih kalau kita bilang bahwa di setiap fase hidup, pasti ada satu-dua peran yang terasa paling "terang" di tengah masa yang paling gelap?

Tanpa bermaksud mengecilkan peran orang lain, mohon izin ke-"lela legawa"an untuk aku yang mungkin masih kurang dalam mengucap terima kasih ini..
Beberapa nama dan peran memang sudah membekas sebegitu dalamnya dalam menolong aku di masa itu..
Terima kasih banyak, ya..
Sungguh! Terima kasih..
Hidupku tidak akan terasa sebermakna ini tanpa bantuan dari kalian semua yang pernah menyentuh hati dan hidupku..

Dari setiap refleksi ini, aku makin sadar kalau aku memang banyak kurangnya..
Aku bukan orang yang selalu baik..
Ada kalanya prioritas dan pilihan yang aku ambil akhirnya menyakiti orang lain—baik secara sadar maupun nggak, sengaja maupun nggak sengaja..
Sekali lagi, maaf ya..
Maaf, karena saat itu aku membuat pilihan-pilihan yang kurang bijak yang secara langsung maupun tidak langsung menyakiti..

Seringkali aku memilih untuk menyelamatkan diri sendiri dulu, yang mungkin bagi orang lain terlihat kurang pantas atau nggak nyaman..
Tapi nggak apa-apa, aku terima segala kekesalan atau ketidaksukaan itu sebagai konsekuensi dari pilihan-pilihan yang aku buat..
Bukankah memang pada dasarnya, setiap pilihan kita akan selalu membawa efek (nyaman ataupun nggak nyaman) bagi orang lain?

Aku pun sadar pernah beberapa kali ghosting atau mengabaikan orang lain..
Bukan karena benci, tapi asli, sungguh, saat itu aku merasa nggak punya tenaga, kapasitas, atau bahkan kemampuan untuk selalu membuat sebuah "sweet closure"..
Akhirnya aku meyakini kalau beberapa hal memang nggak harus selalu selesai..
Ada hal-hal yang ternyata nggak apa-apa kalau dibiarkan menggantung begitu saja..

Layaknya alur cerita dalam buku "tentukan sendiri ceritamu", hasilnya akan berubah tergantung pilihan yang kita buat sebelumnya..
Nggak selalu happy ending, ada yang plot twist, ada yang alurnya mulus, tapi ada juga yang "darderdor" penuh drama..
Namanya juga hidup, kan?

Penuh dengan kejutan..

Soal peran kita yang kadang jadi antagonis atau protagonis, harusnya nggak perlu jadi beban banget, sih..
Karena sejatinya, kita ini cuma cameo di dunia ini..
Numpang lewat, mungkin cuma kesorot punggungnya doang sepersekian detik, terus hilang..
Kita bukan siapa-siapa, bukan pusat dunia, dan mungkin banyak yang nggak sadar akan keberadaan kita..
Kita cuma butiran debu di alam semesta raya ini..

Jadi, ya sudahlah..

Di dunia yang sudah sangat padat dan bising ini, mari kita fokus ke diri sendiri dan orang-orang yang kita sayang..
Karena pada akhirnya, kita hanya akan saling memiliki arti jika kita saling memilih dan saling menyayangi..

Nggak apa-apa kok kalau sesekali jadi "si lemah", tapi jangan lupa untuk selalu sayang dan lemah lembut sama diri sendiri, ya..

Dirimu sangat berarti, utamakan dirimu sebelum membagi bagian dirimu kepada dunia..

Tentang Duka yang "Asing" serta "Jejak" yang mungkin (akan) ditinggalkan

Hari ini rasanya aneh. Mendengar kabar duka tentang Vidi Aldiano yang berpulang, tiba-tiba ada rasa sesak yang mampir dan menetap di dada. Padahal kenal juga nggak. Tapi buat kita yang sehari-harinya berhadapan langsung dengan kata "kanker", kabar seperti ini rasanya kayak ditarik paksa ke realitas yang paling kita takutin. Kematian rasanya jadi ngingetin kalau dia sebenarnya selalu ada di dekat kita.

Otomatis, ingatanku langsung melayang ke lorong-lorong rumah sakit. Ke wajah-wajah rekan seperjuangan ibu yang cuma sempat kusapa senyumnya dua-tiga kali di ruang tunggu, lalu tiba-tiba hilang... Kehilangan kawan seperjuangan—meski cuma kenal sekejap dan pertemuannya bisa dihitung jari—ternyata ninggalin lubang duka yang beneran nyata. Mungkin karena di ruang perawatan itu, kita semua diikat oleh satu ketakutan dan harapan yang sama. Setipis itu ya, batas antara ada dan tiada.

Saking pengennya paham kenapa duka ini rasanya "asing" tapi begitu nyata, aku sempat cari tahu. Ternyata ada penjelasannya: duka parasosial. Gemini AI sempat merangkum alasannya, dan pas aku baca, rasanya masuk akal banget.

Katanya, ada beberapa alasan kenapa kita bisa berduka untuk orang yang nggak kita kenal secara personal

Mengapa Kita Berduka untuk Seseorang yang Tidak Dikenal?

1. Hubungan Parasosial: Otak kita dirancang untuk membentuk koneksi. Kalau kita rutin dengar suaranya, baca karyanya, atau lihat wajahnya di layar selama bertahun-tahun, otak memproses sosok itu sebagai sesuatu yang familiar. Secara emosional, mereka udah jadi bagian dari rutinitas hidup kita.

2. Mereka Menjadi Simbol: Figur publik sering mewakili fase tertentu dalam hidup kita. Lagu atau karyanya mungkin nemenin kita pas lagi patah hati atau stres. Jadi, kepergian mereka kerasa kayak hilangnya kepingan masa lalu kita sendiri.

3. Kita nggak cuma nangisin kepergian mereka hari ini, tapi juga berduka untuk karya atau momen yang nggak akan pernah terwujud di masa depan.

4. Pengingat akan "Hidup yang Fana": Kematian tokoh publik, apalagi kalau perjalanannya panjang atau mendadak, sering memaksa kita menghadapi kenyataan kalau hidup ini rapuh. Ini yang sering memicu kecemasan atau kesedihan yang lebih dalam.


Di penjelasannya juga disebutin cara memproses duka ini. Mulai dari memvalidasi perasaan sendiri (nggak usah menghakimi diri kalau emang pengen nangis), merayakan warisan karyanya, mencari teman ngobrol atau komunitas yang sepemikiran, sampai membatasi baca berita biar nggak doomscrolling dan trauma sekunder. Dan yang paling penting: mengubah duka itu jadi tindakan positif.

Mungkin dengan semua perasaan yang numpuk, dan karena belakangan tidurku juga jarang nyenyak gara-gara mimpi tentang perpisahan dan kematian lumayan sering datang berkunjung. Kayaknya alam bawah sadarku ngasih sinyal lagi kalo badanku dan mentalku sebenarnya capek.

Lagi-lagi kerasa kalo jadi caregiver itu... rasanya hampa.. Bukan cuma fisik yang rontok, tapi mentalku dipaksa buat terus-terusan ada di mode "siaga satu". Seperti obrolan dengan sesama rekan caregiver, seringnya rasa kosong yang susah banget dijelasin ini mostly emang cuma bisa di rasain kalo udah ngejalanin jadi dedicated caregiver.. Kan konon katanya "you never walked alone" ..

Orang-orang akan selalu datang dan nanya, "Ibu gimana kabarnya sekarang?" Tapi, hampir nggak ada yang benar-benar menatap mata kita dan nanya, "Kalau kamu gimana? Kamu capek nggak hari ini menanggung ini semua?" Belum lagi mendengar kata berkesan semangat dengan ucapan "Yang Sabar Ya.. " Tiap denger itu rasanya langsung campur aduk.. Antara ingin bertanya "harus sabar yang seperti apalagi?" atau malah menambah beban rasa bersalah kalau diri ini lagi ngga sanggup untuk sekedar bersabar..

Kadang pengen banget teriak kalau capek. Tapi ujung-ujungnya, lagi-lagi yang datang malah rasa bersalah yang luar biasa. "Masa aku ngeluh capek sih, kan ibu yang lagi taruhan nyawa." Siklus perasaan itu yang terus berputar setiap hari di kepalaku.

Di titik ini, jadi sering ngaca dan nanya ke diri sendiri. "Kalau suatu hari nanti giliranku yang tiba, apa orang-orang bakal sedih? Gimana ya mereka bakal mengenang aku? Apa aku ini udah jadi manusia yang cukup baik? Apa peranku selama ini udah cukup berarti?"

Kita terlalu sibuk mikirin legacy atau pencapaian besar apa yang mau ditinggalin buat dunia, sampai lupa kalau warisan paling abadi itu sebenarnya sesederhana jejak perasaan yang kita tanam di hati orang lain. Aku nggak tahu apakah peranku sudah sempurna, rasanya sih jauh dari itu. Tapi aku cuma bisa berharap... semoga keberadaanku di antara orang-orang yang aku kasihi selama ini cukup memberikan warna di hari-hari mereka.

Semoga semua senyum dan usaha-usaha kecilku untuk membersamai mereka bisa dirasakan sebagai bentuk cinta yang paling tulus. Dan kalaupun suatu hari nanti raga ini udah nggak ada, aku berdoa semoga cintaku akan terus terasa hangat di relung hati keluargaku dan sahabat-sahabatku. Setidaknya, sebagian dari diriku dan isi kepalaku akan terus hidup lewat tulisan-tulisan yang pernah kubuat—semoga itu bisa jadi pelukan pengganti di saat aku udah nggak bisa memeluk mereka secara fisik.

Rangkaian perasaan ini tiba-tiba ngingetin aku sama sesi obrolan terakhir bareng Dokter Dimas. Beliau berpesan sesuatu yang nancep banget: "Jangan lupa untuk selalu menyiapkan diri untuk berduka... Lakukan apa yang bisa kamu lakukan biar nggak ada rasa Penyesalan... Karena tahap berduka yang paling sulit dilalui adalah bagian penyesalan... "

Dan ternyata semesta seolah lagi ngajak ngobrol. . Kemarin aku baru aja menang dapat tiket nonton gratis film "Senin Harga Naik"

dapet traktiran dari minka.. Kisahasuhremaja_kasur, yang bikin siniar soal Ngobrol santai tentang serunya jadi orang tua dari anak pra remaja & remaja.. Sempet foto bareng Mbak Rahmasari M. Muhammad, Mbak Ai, Salah satu minka akun kisah asuh remaja.. Film-nya bagus, menghangatkan hati.. Mengingatkan kalau kita semua ga pernah berhenti berproses, orang tua dan anak memiliki prosesnya masing-masing.. meski caranya beda tapi hendaknya cinta selalu menyatukan semua, membalut segalanya dengan penerimaan yang nggak mudah..

Semua kejadian ini bikin pikiranku berusaha merangkai pesan... Apa ya yang sebenarnya pengen Allah sampaikan lewat rentetan kejadian ini?

Lalu siang tadi, Tante Meriam Bellina juga sempat sharing pesan yang sangat mengena. Pesan yang kebetulan dulu pernah ibu singgung sedikit..

"Kalau sayang sama seseorang ya ungkapin, tunjukin... jangan tunggu sakit, jangan tunggu nanti-nanti... kalau udah nggak bisa nyampein, nanti nyesel."

Rasanya aku ingin merajut benang merah agar pesan-pesan tersirat itu tersambung dan memiliki makna dalam hidupku...

Sekali lagi, malam ini, aku mau mengizinkan diriku buat kembali nggak jadi si paling kuat. Boleh capek, boleh nangis, boleh merasa takut. Nggak apa-apa. Besok, kita coba melangkah pelan-pelan lagi. Sambil terus mengingat untuk menyampaikan sayang, sekarang, hari ini juga.