Hari ini, rasanya ada sesuatu yang benar-benar putus di dalam dadaku. Bukan karena perkara nominal atau hitung-hitungan uang, tapi karena sebuah siklus menyakitkan yang kembali terulang, yang akhirnya menampar kesadaranku: sampai kapan pun, sekeras apa pun aku berdarah-darah untuknya, hubungan kami pada akhirnya tak lebih dari sekadar transaksi.
Semuanya meledak saat uang klaim asuransi kesehatannya cair. Asuransi yang preminya mati-matian kubayar dengan menyisihkan gaji sejak awal aku bekerja, adalah satu-satunya hasil dari sekian banyak pengeluaran tak bersisa yang aku tanggung selama ini. Niatku, uang itu murni untuk menyelesaikan urusan administrasi hibah rumah. Tapi balasannya? Ibu menuntut porsi yang sangat besar darinya. Alasannya bukan sekadar soal butuh, tapi karena dia ingin memegang uang tunai, ingin "menikmati" uang asuransi itu untuk beli vitamin, dan untuk membayar biaya yayasan pemakaman.

Yang paling menghancurkan hati adalah tuduhan bahwa aku "tidak ikhlas" dan "perhitungan".
Ibu seolah lupa, aku sudah merelakan tiga tahun masa produktifku hanya untuk mengurusnya. Selama tiga tahun itu, aku melepaskan peluang karir dan mimpiku. Dan apa yang kudapatkan sebagai gantinya? Bukan rasa terima kasih, melainkan makian dan cercaan yang tak terhitung jumlahnya. Ibu bahkan tak segan merendahkanku di tempat umum, meneriakiku di depan orang banyak hanya agar aku merasa malu dan semakin merasa bersalah. Dia ingin dunia melihatku sebagai anak yang buruk, padahal akulah yang berdiri paling depan saat dia kesakitan.
Kalau mau bicara soal "hitungan", pernahkah ibu berpikir berapa biaya yang harus ia keluarkan jika ia harus menyewa jasa caregiver profesional sekaligus tenaga administratif untuk mengurus semua keperluan medisnya selama tiga tahun ini? Bukan maksudku untuk menagih, tapi aku ingin ibu punya bayangan betapa setitik pun upayaku selama ini tidak pernah dihargai.
Bayangkan, jika selama tiga tahun itu ibu harus membayar orang lain untuk melakukan apa yang kulakukan, berapa banyak harta yang harus ibu jual? Aku melakukan itu semua bukan karena aku punya uang lebih, tapi karena aku masih berusaha memenuhi baktiku. Tapi di mata ibu, semua itu selalu dikalahkan oleh materi yang bisa langsung ia gunakan untuk bahagia bersama teman-temannya.
Luka batin ini bukan sekadar sedih biasa. Aku sampai harus menjalani psikoterapi lebih dari satu tahun karena berkali-kali dihantam serangan psikosomatis. Napasku sering mendadak sesak, bahkan tubuhku sampai kejang karena sistem sarafku sudah tak sanggup lagi menahan tekanan mental ini.
Suamiku, yang tak tega melihatku hancur secara perlahan, pernah mencoba menengahi. Dia memberanikan diri berbicara pada ibu, menceritakan soal sesi psikoterapiku dan serangan fisik yang kualami. Harapan suamiku sederhana: semoga setelah mendengar kenyataan itu, ibu bisa sedikit melonggarkan tekanannya padaku.
Tapi apa balasannya? Alih-alih merangkulku, ibu malah menggunakan rasa sakit mentalku sebagai senjata baru. Dia bilang semua sesak dan kejang yang kualami itu terjadi semata-mata karena aku "tidak ikhlas" menjalani peranku, karena pikiranku yang terlalu sempit. Di matanya, hancurnya mentalku bukanlah akibat dari sikapnya, melainkan karena keburukan hatiku sendiri.
Di titik itulah aku sadar. Ibu hanya mau kembali bersikap baik jika aku menyerah dan memberikan apa yang dia mau. Dan seperti biasa, seluruh tolak ukurnya selalu bermuara pada materi.
Polanya tidak pernah berubah sejak dulu. Ingatanku tiba-tiba ditarik mundur ke masa kuliah, saat aku tumbang terkena tipus. Proses pemulihanku saat itu memang memakan waktu agak lama. Bukannya dirawat dengan kehangatan layaknya seorang anak yang sedang sakit, ibu malah marah besar. Ia marah karena merasa sudah mengeluarkan uang untuk membawaku ke dokter, jadi seharusnya aku berangsur sembuh. Saat tubuhku terbaring lemas dan kepalaku pusing tak tertahankan, ia malah menuduhku pemalas karena terlalu banyak tidur. Rasa sakit fisikku sama sekali tidak valid di matanya; aku lama pulih akibat malas bergerak. Intinya yang jadi persoalan utama adalah biaya yang sudah ia keluarkan tak membuahkan hasil.
Mengingat itu semua membuat dadaku selalu terasa sesak. Sebagai anak tunggal, seumur hidupku dibebani oleh begitu banyak tuntutan. Namun, sekeras apa pun aku berusaha memenuhi ekspektasinya, pada akhirnya kasih sayang dan keberadaanku selalu diukur dengan seberapa banyak materi yang sudah ia keluarkan untuk membesarkanku.
Di ujung cerita, apa pun yang kulakukan, aku akan selalu dilabeli sebagai anak yang tidak tahu adab dan tidak paham terima kasih.
Malam ini, aku makin menyadari bahwa: aku tidak akan pernah menang melawan orang yang menolak melihat kebenaran. Demi keselamatanku sendiri, demi napas, mental, dan keluarga kecilku, akhirnya kublokir nomor ibu dan tante yang membantunya menyerangku. Aku memutus akses mereka untuk terus menyakitiku.
Ibu sekarang masih sibuk mengunggah pesan serangan ke status WhatsApp untuk mencari simpati publik, dan menunjukan betapa busuknya hatiku. Biarlah. Aku sungguh lelah berada dalam siklus yang manipulatif ini. Besok, kalau dia sakit lagi, aku tidak mau mengurusnya. Biarkan orang-orang yang selama ini dia banggakan yang turun tangan.
Padahal, kalau boleh jujur dari relung hati yang paling dalam, permintaanku tidak pernah muluk-muluk. Di balik semua lelah dan luka ini, aku cuma ingin satu hal. Aku cuma ingin merasakan disayangi oleh orang tua satu-satunya yang kumiliki saat ini dengan tulus. Disayangi tanpa syarat. Tanpa hitung-hitungan materi. Tanpa kata tapi...
Sekarang, biarkan aku mencoba memunguti sisa-sisa kewarasan dan hidupku yang hilang. Hidup yang tak pernah benar-benar kumiliki untuk diriku sendiri. Dan kepada diriku yang selalu berusaha kuat, malam ini aku ingin membisikkan: kamu sudah bertahan melampaui batasmu. Kamu berhak untuk berhenti, merangkul dirimu sendiri, dan memilih bahagia.


