Transaksi Cinta Kasih

Hari ini, rasanya ada sesuatu yang benar-benar putus di dalam dadaku. Bukan karena perkara nominal atau hitung-hitungan uang, tapi karena sebuah pesan WhatsApp dari ibuku sendiri yang akhirnya menampar kesadaranku: sampai kapan pun, sekeras apa pun aku berdarah-darah untuknya, hubungan kami pada akhirnya tak lebih dari sekadar transaksi.


Semuanya meledak saat uang klaim asuransi kesehatannya cair. Asuransi yang preminya mati-matian kubayar dengan menyisihkan gaji sejak awal aku bekerja adalah satu-satunya hasil dari sekian banyak pengeluaran tak bersisa yang aku tanggung selama ini. Niatku, uang itu murni untuk menyelesaikan urusan administrasi hibah rumah. 


Tapi balasannya? Ibu meminta potongan yang sangat besar darinya. Alasannya bukan sekadar soal butuh, tapi karena dia ingin memegang uang tunai, ingin "menikmati" uang asuransi itu untuk beli vitamin, dan untuk membayar Yayasan Bunga Kamboja (yayasan pemakaman).


Satu hal yang membuatku benar-benar muak adalah alasan tentang yayasan itu. Padahal, aku sendiri yang sebelumnya menyinggung dan mencari tahu soal Yayasan Bunga Kamboja untuk meringankan bebannya. Aku tahu persis iuran bulanannya sangatlah kecil, hanya sekian belas ribu rupiah. Bahkan, temanku yang membayarkan untuk empat orang keluarganya selama belasan tahun saja, totalnya tak sampai menyentuh angka jutaan. Lalu bagaimana bisa ibu menggunakan alasan yayasan itu untuk menuntut porsi yang sebegitu besarnya dariku?


Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang ibu dengan mudahnya memanipulasi dan membohongi anaknya sendiri soal uang? Terlalu banyak kebohongan yang dia buat hanya untuk mengais receh dariku. Sama halnya dengan urusan rumah di Bandung yang sedang dia minta urus hibahnya itu. Setiap kali ada orang yang mengontrak rumah tersebut, ibu selalu berbohong soal uang sewa yang dia terima. Selama ini aku tahu semuanya. Aku tahu dia berbohong, tapi aku selalu memilih diam dan menelan semuanya.


Tapi kali ini? Aku sudah muak.
Dan dari semua kebohongan itu, yang paling menghancurkan hati adalah ketika dia dengan mudahnya menuduhku perhitungan dan tidak ikhlas.


Tuduhan itu seolah menghapus segalanya. Ibu seolah lupa, uang klaim asuransi operasi sebelumnya juga sudah habis dia nikmati, tapi apa hasilnya? Kankernya tetap kambuh. Dan selama bertahun-tahun ini, siapa yang menanggung semua ongkos ke rumah sakit, panas-panasan, berdesakan mengurus sana-sini? Aku. Aku berkorban jauh lebih besar dari sekadar uang. Aku mengorbankan waktuku, tenagaku, dan masa produktifku selama 2023-2026. Tapi semua itu tidak pernah dihargai sedetik pun.


Tanya saja teman-teman ku, mereka semua tahu bagaimana kerasnya aku harus hidup berhemat dan berjuang menyisihkan pendapatan demi ibuku. Tapi, pernahkah ibu sekali saja, seumur hidupku, bertanya, "La, uang kamu cukup buat hidup?" Tidak pernah. Yang keluar dari mulutnya selalu kalimat enteng: "Jangan bikin ibu pusing, urus hidup sendiri."


Aku sudah mengurus hidupku sendiri, Bu. Tapi nyatanya, aku masih harus terus-terusan memikirkan hidup ibu. Aku masih harus memutar otak supaya ibu selalu kelihatan baik di depan semua orang, supaya ibu kelihatan tak pernah susah. Aku diwajibkan membantu teman atau saudaranya yang kesusahan dengan dalih "rezeki pasti ada aja". Ibu bisa dengan bangga bilang ke orang-orang kalau dia nggak pernah pusing memikirkan hidup, sementara aku, anak tunggalnya, seumur hidup harus kepikiran bagaimana caranya bisa sekadar bertahan.



Waktu ibu dirawat, aku tidur bergelung di lantai rumah sakit yang dingin. Kurang tidur berhari-hari. Sesekali migrenku kambuh parah, tapi aku diam. Aku tahan sakitnya sambil tetap duduk menjaganya. Sekali pun, ibu tidak pernah menanyakan apakah aku sehat atau apakah aku capek.


Yang paling mengiris hati adalah melihat betapa berbedanya perlakuan ibu kepadaku dibandingkan ke orang luar. Kepada Tante Ambar, kalau dia harus menunggu agak lama sedikit saja, ibu buru-buru minta maaf dan mengucap terima kasih. Ke orang luar, ibu bisa bersikap sebaik malaikat. 

Bahkan ke orang-orang, ibu selalu bercerita seolah selama ini semua urusannya dibantu oleh Tante Ambar. Keringatku, lelahku, dihapus begitu saja dari ceritanya. Sedihnya lagi, yang ada ibu malah berpesan kalau sampai dia tidak ada nanti, aku masih harus mengurus Oma. Aku benar-benar tidak pernah punya hidup untuk diriku sendiri.

Boro-boro ucapan maaf atau makasih. Ibu pernah dengan tega bilang kalau semua yang aku kasih itu nggak pernah cukup. Kata ibu, aku nggak pernah bikin dia senang, yang peduli dan bikin dia senang cuma teman-temannya. Di matanya, kerjaku cuma memfitnah dan bikin namanya jelek. Mau jungkir balik berusaha seperti apa pun, aku selalu salah di matanya.


Rasanya aku tidak pernah dianggap sebagai anak kandung. 

Aku diperlakukan seolah lebih hina dari keset yang bebas diinjak-injak kapan saja dia butuh. 

Kalau memang dulu ibu punya trauma dan memang tidak pernah menginginkan aku lahir, tolonglah... jangan jadikan aku tempat sampah untuk menanggung semua kebencian seumur hidupku.. 

Aku sungguh lelah. Lelah berada dalam hubungan yang manipulatif dan transaksional, lelah berusaha menjadi baik hanya untuk terus-terusan disakiti dan tak dianggap. Besok, kalau dia sakit lagi apa pun itu, Biar saja teman-teman yang selama ini dia banggakan yang turun tangan. 

Sekarang, biarkan aku mencoba mencari sisa-sisa hidupku yang hilang. Hidup yang tak pernah benar-benar kumiliki untuk diriku sendiri.

0 Response to "Transaksi Cinta Kasih"

Post a Comment