"Badai" dan Bunga yang Belajar Mekar

Namaku memiliki arti "Bunga Ilmu Pengetahuan yang Sempurna". Sebuah doa berat yang disematkan oleh Ayah. Dulu, hidupku terasa sesempurna arti nama itu. Sebagai anak tunggal dari seorang insinyur sipil BUMN, aku tumbuh di atas roda koper yang bergulir dari satu kota ke kota lain.


Kenangan tentang Ayah bukan hanya sekadar kertas kerja di meja, melainkan debu proyek dan deru mesin. Aku ingat betul rasanya diajak mengunjungi berbagai lokasi proyek yang sedang ia tangani. Di antara tiang-tiang beton yang menjulang dan para pekerja yang sibuk, aku kecil menggenggam tangan Ayah dengan bangga, merasa aman di tengah hiruk-pikuk pembangunan itu. Bahkan salah satu potret masa kecil yang masih tergambar jelas di kenanganku adalah fotoku dengan setelan rok dan topi proyek. Bagiku, Ayah adalah insinyur yang membangun duniaku.


Namun, dunia itu runtuh dalam sekejap saat aku liburan kenaikan kelas 3 SD. Liburan kenaikan kelas semestinya menjadi momen yang membahagiakan bagi sebagian besar anak. Biasanya liburan kenaikan kelas juga merupakan masa yang kunantikan karena artinya ayah akan mengambil cuti panjang, dan kami akan jalan-jalan ke luar kota.


Juli 1993 menjadi cerita liburan kenaikan kelas yang berbeda untukku.


Sebuah kecelakaan tunggal yang tragis terjadi. Nenek dan Om Deni menghembuskan napas terakhir mereka di tengah perjalanan menuju ke RS, tak sempat mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut. Kenyataan pahit ini menorehkan trauma yang begitu dalam bagi Ibu, hingga seumur hidupnya, Ibu hampir tak pernah mau menginjakkan kaki atau sekadar mengunjungi seorang pun di RSUD kota T. Baginya, tempat itu adalah monumen kehilangan.


Di tengah kekacauan itu, teman dari Om—yang kelak menjadi satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan tunggal tersebut—justru masih terbaring tak sadarkan diri. Praktis, tak ada harapan darinya untuk mengabarkan berita ini. Namun Ayah, dengan sisa-sisa kesadaran terakhirnya di kondisi kritis, masih berjuang untuk memberikan kartu nama dan kontak keluarga kepada orang yang menolongnya. Itu adalah bakti terakhir Ayah untuk memastikan kami mendapat kabar, sebelum akhirnya ia pun pergi menyusul Ibu dan Adiknya untuk selamanya.


Saat kejadian itu, aku tidak sedang bersama mereka. Aku sedang pergi bersama Uwak Ros—kakak perempuan Ibu yang kelak menjadi sosok ibu kedua bagiku—ke Bandung untuk ziarah makam keluarga. Ibu pun sedang berada di tempat lain, menghadiri acara bersama teman-temannya. Takdir memisahkan kami di hari paling kelabu itu.


Aku ingat betul, malam itu hujan deras, sepulang dari Bandung dan tiba di rumah Uwak Ros, kondisi di rumah itu sedang mati lampu. Dalam keremangan itu, aku melihat sepupuku berbisik membisikkan sesuatu kepada orang tuanya. Ada ketegangan yang menggantung di udara, namun aku terlalu kecil untuk menerjemahkannya.


Esok paginya, aku diajak kembali ke Bandung menaiki bus. Sepanjang perjalanan, Uwak Ros terlihat sibuk membaca koran. Ia menandai sebuah berita dengan pena. Rasa ingin tahuku muncul, aku meminta izin untuk ikut membacanya, tapi Uwak Ros melarang dan menjauhkan koran itu dariku. Ia berusaha melindungiku dari berita duka yang tertulis di sana. Aku hanya diam, meski hati kecilku mulai bertanya-tanya.


Sesampainya di Bandung, aku bertemu Ibu. Wajahnya basah, matanya bengkak. Ia terus menangis saat memelukku, lalu dengan suara bergetar ia menyampaikan kalimat yang mengubah hidupku: "Ayah sudah tidak bisa bersama kita lagi."


Anehnya, aku tidak menangis. Tak ada air mata yang tumpah. Aku hanya terdiam, mencerna kalimat itu dengan kebingungan anak-anak. Perlahan aku melepaskan pelukan Ibu, keluar dari kamar, dan kembali bermain dengan saudara sepupu yang lain seolah tak terjadi apa-apa. Mungkin itu caraku menyangkal rasa sakit yang terlalu besar untuk kutanggung.


Setelah Ibu nampak sedikit tenang, aku diajak pergi ke pemakaman. Di sanalah, untuk pertama kalinya aku melihat nama Ayah tertulis di nisan kayu. Aku menatapnya lamat-lamat, namun aku masih tidak menangis. Dari makam, aku dibawa ke rumah duka keluarga besar Ayah. Semua saudara Ayah menangis. Mereka satu per satu memelukku dengan erat, menumpahkan kesedihan mereka di bahuku. Bagaimana tidak, kehilangan tiga orang tersayang dalam waktu bersamaan, tentu bukan hal yang mudah dihadapi. Di sana, aku tetap tidak menangis. Aku merasa sedih, tapi rasanya sulit sekali untuk percaya bahwa Ayah benar-benar tiada. Rasanya, Ayah hanya sedang pergi dinas ke luar kota seperti biasa.


Sejak hari itu, definisi "rumah" bagiku ikut hilang.


Dari anak emas yang hidup berkecukupan, aku belajar menjadi "penumpang". Rumah peninggalan Ayah dijual, uangnya kami tabung dan belikan rumah mungil yang lebih sederhana untuk masa depan. Tapi kami tak langsung menempatinya. Aku dan Ibu memulai perjalanan bertahan hidup kami dengan hati yang patah.


Mulai dari menumpang di rumah teman Ibu, hingga akhirnya aku harus pindah ke Surabaya saat kelas 4 SD. Aku ikut Uwak Suhiyar, kakak ipar Ibu yang merupakan seorang pilot AURI, untuk tinggal bersama keluarga Uwak Mike, kakak pertama Ibu. Di tengah keluarga Uwak Mike inilah aku belajar beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat disiplin dan teratur, namun tetap terasa begitu hangat dan penuh kasih sayang.


Kelas 5 SD, aku sempat kembali ke pelukan Ibu. Tapi itu tak lama. Kelas 6 SD, karena Ibu harus bekerja dan sulit membagi waktu untuk menjagaku, aku dititipkan—lagi. Kali ini di rumah wali kelasku. Lalu saat SMP, aku tinggal bersama keluarga kakak Ibu yang lain.


Aku tumbuh menjadi anak yang akrab dengan kesendirian. Sering ditinggal seorang diri di rumah memang membentukku menjadi mandiri—bukan karena aku menginginkannya, melainkan karena keadaan yang memaksa. Namun, ajaibnya aku jarang sekali merasakan kesepian. Bagiku, "sendiri" tidak sama dengan "sepi".


Alhamdulillah, Allah Maha Baik yang selalu menempatkanku di tengah lingkungan yang menyenangkan. Sejak kecil hingga kini, aku selalu dikaruniai sahabat-sahabat berhati emas. Merekalah yang selalu ada, menjadi garda terdepan yang siap memeluk dan menopangku setiap kali aku terjatuh atau kesusahan. Kehadiran mereka membuatku sadar, meski Ayah telah tiada dan Ibu sibuk bekerja, aku tidak pernah benar-benar sendiri.


Syukurnya pula, Ayah meninggalkan bekal pendidikan yang cukup, sehingga aku bisa melangkah dari satu jenjang sekolah ke jenjang berikutnya tanpa beban biaya yang mencekik. Alhamdulillah, aku bersekolah di sekolah negeri, dan ketika les LIA pun aku pernah mendapatkan kesempatan les tanpa biaya karena mendapatkan nilai yang cukup baik. Lagi-lagi bukan karena pintar, tapi karena aku memang menyukai pelajaran bahasa, ditambah lagi dengan guru yang mengajarkan dengan atraktif hingga mudah dipahami dan teman sekelas yang membuat bersemangat dengan suasana persaingan sehat serta menyenangkan. Dari LIA aku jadi memiliki sahabat yang walaupun tak pernah satu sekolah namun tak pernah putus berkomunikasi hingga saat ini.


Ujian datang lagi saat aku kelas 2 SMA. Ibu menjalani operasi pengangkatan payudara.


Sesungguhnya masa itu cukup berat untukku ditambah dengan drama masa remaja yang terasa bagai rollercoaster. Tuhan Maha Baik, penanganan cepat membuat Ibu lekas pulih. Aku pun tidak terus terpuruk sedih karena dikelilingi teman-teman baik yang selalu membuatku merasa cukup. Cukup karena mereka selalu berbagi denganku walau tak pernah kuminta. Cukup untuk membuat hati selalu hangat berada di antara mereka.


Lulus SMA, tantangan baru menghadang. Ibu berucap bahwa tangannya tak akan sanggup memapah biayaku jika aku masuk universitas swasta. PTN adalah harga mati. Demi itu, dengan segala keterbatasan ekonomi yang ada, Ibu tetap mengupayakan yang terbaik: mendaftarkanku ke bimbingan belajar dengan program jaminan tembus PTN.


Jujur, aku sendiri tak yakin dengan kemampuanku. Betapa tidak? Di SMA aku mengambil jurusan IPA, namun di bimbel itu aku justru banting setir mengambil paket IPS. Jangan ditanya bagaimana kacau-balau nilai-nilaiku saat itu. Segala hal yang ditempuh dengan cara tidak linier dan jauh dari ideal itu membuatku merasa kecil. Namun, Allah Maha Pembolak-balik keadaan. Di luar dugaan, aku lulus Ujian Nasional, lolos Seleksi Nasional PTN, bahkan tembus Ujian Mandiri PTN. Tak ada setitik pun kesombongan yang bisa kusematkan, karena aku yakin seyakin-yakinnya, semua kelulusan itu murni berkat pertolongan Allah semata.


Aku pun merantau kuliah di PTN. Siklus "menumpang" berulang; kali ini di rumah sepupu. Tapi aku sadar, aku tak bisa selamanya bergantung. Semester 7, aku mendapat pekerjaan di kampus. Dengan gaji itu, aku memutuskan untuk indekos. Alasan utamanya sederhana: aku butuh ruang untuk skripsi, kuliah, bekerja, dan aku tak enak hati jika pulang larut mengganggu sepupuku yang baru saja melahirkan.


Takdir Allah membawaku bekerja di sekolah internasional setelah wisuda, lalu loncat ke sebuah perusahaan multinasional di bidang migas. Karierku berjalan stabil dengan lingkungan kerja yang sangat menyenangkan. Bahkan saat pandemi melanda dunia, di saat banyak orang kesulitan, aku justru mendapatkan kesempatan berpindah kerja dengan penghasilan dan fasilitas yang jauh lebih baik.


Di masa awal bekerja di perusahaan migas inilah, tergerak hatiku untuk mendaftarkan Ibu asuransi rawat inap. Aku mendaftar melalui sepupuku yang menjadi agen, dengan harapan sederhana: jika terjadi hal tak diinginkan, birokrasinya bisa lebih mudah dan lancar karena dibantu saudara sendiri. Sebuah keputusan yang kelak sangat kusyukuri.


Setelah pandemi perlahan usai, sebuah realitas pahit itu kembali menghantam. Ibu terindikasi kanker indung telur.


Jalan menuju diagnosis itu tidaklah mudah. Berbekal saran dari Dokter Mova Aria—dokter kantor yang selalu sabar menjawab konsultasi terkait kondisi Ibu—aku diarahkan untuk mencari dokter kandungan subspesialis onkologi. Penelusuranku di internet bermuara pada satu nama: Dr. dr. Iwan Kurnia Effendi, M.Kes, SpOG (K) Onk. Sengaja kupilih rumah sakit baru dengan fasilitas menyerupai hotel, berharap kemewahan dan kenyamanan itu bisa menyamarkan aroma rumah sakit yang mungkin memicu trauma Ibu.


Saat dokter memberikan diagnosis awal, Ibu tampak tidak terima. "Ibu tidak merasakan sakit apa-apa!" sanggahnya. Penolakan itu memancing emosiku. Refleks, aku marah di ruang periksa karena merasa Ibu mengabaikan fakta medis. Dokter Iwan, dengan ketenangan seorang profesional, memanggilku kembali ke ruang konsultasi secara terpisah. Ia menasehatiku tentang 5 stages of grieving (lima tahapan kesedihan).


"Ibumu sedang di tahap penyangkalan (denial)," jelasnya lembut. "Berikan Ibumu waktu."


Aku mencoba menahan ego, namun logikaku tetap menuntut kepastian. "Dok, saya butuh arahan. Kira-kira langkah apa yang harus saya lakukan, dan berapa batas waktu maksimal sebelum operasi sebaiknya dilakukan?" tanyaku. Dokter bertanya apakah ibu memiliki asuransi, dan karena pertanyaan itu aku langsung bergegas menghubungi sepupuku untuk mengurus administrasi yang mendukung kepastian bantuan pengobatan.


Dalam jeda waktu itu, Ibu mencari jalur pengobatan alternatif. Seorang Kyai menyarankan untuk menempuh jalur "kemo herbal" dan melarang operasi. Beliau berkata kemungkinan kesembuhan medis hanya 50:50, sedangkan alternatif mencapai 70:30. Angka-angka itu membuatku gentar, tapi logika dan naluriku sebagai anak tunggal memberontak.


Aku memberanikan diri menjawab, "Pak Kyai, jika terjadi apa-apa, yang paling hancur dan bersedih adalah saya sebagai anak tunggal. Jika saya sudah mencari pendapat delapan dokter berbeda dan semuanya menyarankan untuk mengangkat tumor dari rahim Ibu, apakah boleh saya yakini itu sebagai petunjuk dari Allah juga?"


Argumen itu memantapkan langkahku.


Kami memutuskan untuk operasi. Operasi dimulai jam 7 pagi dan baru tuntas selepas salat Jumat. Dokter memperlihatkan jaringan organ yang telah disterilkan kepadaku. Hatiku mencelos melihat tumor berdiameter 14,5 cm—nyaris sebesar kepala bayi—yang telah diangkat, beserta rahim dan organ terdampak lainnya. Vonis itu kian berat: Stadium 3C. Perjuangan belum usai, kemoterapi menanti.


Aku berusaha mencerna semua informasi itu sendirian di lorong rumah sakit. Saat suamiku datang usai menunaikan salat Jumat, pertahananku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya, menumpahkan segala ketakutan. Setelah tangis itu reda, barulah aku mengumpulkan sisa kekuatan untuk menyampaikan kondisi Ibu kepada keluarga besar dengan tenang.


Tabungan kerjaku terkuras untuk biaya operasi. Sempat khawatir mengenai perawatan lanjutan, aku kembali bertanya ke dokter iwan apakah beliau menerima BPJS. Alhamdulillah ternyata beliau menerima BPJS namun di RSUD Kota T (yang rasanya tak mungkin membawa ibu ke sana terkait traumanya) dan MRCCC Siloam Semanggi. Aku langsung memilih MRCCC Semanggi dan meminta Dokter Iwan membuatkan memo agar dalam mengurus administrasi BPJS, rujukan utama ibu bisa bermuara kembali ke Dokter Iwan. Rasa syukurku meluap karena BPJS akhirnya bisa menjadi penopang utama, ditambah asuransi swasta yang dulu kusiapkan lewat sepupuku, membuat beban finansial terasa jauh lebih ringan. Kebiasaan hidup hemat dan investasi juga memberiku pegangan.


Di saat tabungan kerjaku menipis itulah, kesadaranku tersentak. Berkaca dari pengalaman Ayah yang meninggal secara tiba-tiba dan Ibu yang kini berjuang melawan kanker, aku menjadi sangat berhati-hati. Faktor risiko genetik dan ketidakpastian hidup tak bisa lagi kuabaikan. Aku harus berpikir strategis. Maka, demi meminimalisir risiko dan sebagai langkah mitigasi, aku memutuskan untuk mendaftar asuransi penyakit kritis untuk diriku sendiri. Aku tak ingin, jika skenario terburuk terjadi padaku, suami dan anakku harus mengalami kesusahan yang berat.


Saat itu, aku merasa menjalani peran ganda yang sangat berat: ibu bekerja, istri, ibu dari anak usia sekolah yang butuh perhatian akademis, sekaligus menjadi caregiver tunggal untuk Ibu. Fisik dan mentalku punya batas. Aku memutuskan resign. Kupikir, dengan berhenti bekerja, aku bisa mengatur waktu lebih baik. Ternyata aku salah. Baru saja resign, suamiku masuk rumah sakit karena DBD. Rasanya seperti dipukul bertubi-tubi. Dana darurat yang selalu kusiapkan menjadi penyelamat di saat genting itu. Alhamdulillah suamiku pulih setelah 7 hari rawat inap dan 4 hari di HCU. Kami selamat dari krisis finansial, tapi krisis batinku baru dimulai.


Kondisi Ibu naik turun. Setelah operasi, ternyata sel kanker masih aktif. Kami lanjut ke medis. Siklus kemo kedua selesai, tapi gula darah Ibu tak terkontrol, dan kanker itu aktif lagi. Perasaanku seperti rollercoaster. Aku sering sesak napas tanpa sebab, tanganku gemetar. Aku lelah. Sangat lelah. Aku menarik diri dari pergaulan, bahkan nyaris menyerah menyelesaikan tesisku. "Aku tak sanggup lagi," batinku.


Namun, di titik terendah itu, aku menyadari satu hal yang luar biasa: Allah tidak membiarkanku berjalan sendirian. Ia mengirimkan bala bantuan melalui cara-cara yang tak terduga.


Tiba-tiba, mantan atasanku di kampus menghubungi, memberiku akses tempat penelitian yang sebelumnya buntu. Suamiku, support system terbaikku, menggenggam tanganku erat dan meyakinkanku. "Kamu bisa. Nggak perlu nilai sempurna. Selesaikan saja apa yang sudah kamu mulai. Ini contoh yang baik juga buat Elmo nanti," katanya.


Hanya tiga bulan. Waktu yang diberikan oleh Prodi sebagai kesempatan terakhir untuk menyelesaikan tesisku.


Di sisa waktu yang sempit itu, aku diberikan dosen pembimbing tambahan. Dosen pembimbing pertamaku sudah sangat baik, namun tuntutan idealisme akademisnya terasa berat bagiku yang sedang limbung. Kehadiran dosen pembimbing kedua, Pak Fariz, bagaikan oase. Beliau memberikan arahan yang realistis, memahami kondisiku yang tidak stabil karena mengurus Ibu, dan memaklumi kapabilitasku yang terbatas.


Dalam waktu yang sangat singkat itu, aku menjalani sidang proposal dengan tulisan yang seadanya. Tentu saja, aku habis dilibas oleh para penguji. Rasanya ingin menyerah saat itu juga. Namun, mantan atasanku yang membukakan jalan ke tempat penelitian kembali mengingatkan, "Karya penulisan yang baik adalah karya penulisan yang selesai."


Kalimat itu menamparku. Dengan semangat tidak ingin mengecewakan tangan-tangan yang telah menolongku, aku tertatih-tatih melanjutkan.


Kekagetan belum usai. Tak lama setelah sidang proposal, jadwal sidang tesis tiba-tiba keluar. Waktunya sangat mepet. Di antara sidang proposal, persiapan sidang tesis, dan revisi, kondisi Ibu justru sedang naik turun tidak karuan. Aku hampir tidak punya waktu untuk diriku sendiri. Otakku buntu. Semua hal benar-benar kukerjakan dengan satu modal nekat: berharap belas kasih Yang Maha Kuasa untuk menolongku.


Sidang tesisku hancur lebur. Banyak sekali pertanyaan penguji yang tidak bisa kujawab. Ingin rasanya aku berteriak menyampaikan segala keterbatasanku, tentang Ibu yang sakit, tentang lelah yang mendera. Tapi, rasanya itu tidak etis. Maka aku hanya diam, mencerna segala kritik dan cecaran penguji dengan kepala tertunduk.


Ujian belum berhenti. Waktu revisi mengejar, sementara kondisi Ibu memburuk lagi. Belum sempat revisi kuselesaikan, pihak Prodi memintaku untuk segera mendaftarkan yudisium karena masa studi yang hampir habis. Aku menurut saja, mendaftar dengan dokumen seadanya. Namun, hal itu memicu kemarahan besar dosen pengujiku. Aku dibilang lancang karena mendaftar sebelum revisi di-ACC.


Aku bingung, terjepit di antara aturan administrasi dan etika akademis. Dadaku sesak, tubuhku kembali gemetar hebat.


Di momen itulah, di ruang tunggu rumah sakit saat menemani Ibu kemoterapi, pertahananku benar-benar runtuh.


Ibu sebelumnya tidak pernah mengetahui bahwa aku melanjutkan S2. Aku sengaja menyembunyikannya, mungkin karena tak ingin menambah beban pikirannya, atau karena hubungan kami yang kaku. Aku hanya sempat memberitahunya sekilas bahwa aku sedang "kesulitan mengatur waktu untuk diri sendiri".


Hari itu, aku tak sanggup lagi berpura-pura kuat. Aku menangis di hadapan Ibu.


Untuk pertama kalinya, aku memberanikan diri menampakkan sisi rapuhku. Melihatku hancur, hati Ibu yang biasanya keras perlahan melunak. "Bu, maafin Lala," bisikku di sela tangis. "Lala sudah melakukan semua hal yang bisa dilakukan, tapi Lala tahu ini semua bukan upaya terbaik. Semua yang ini hanya bare minimum untuk sekedar bertahan saja, Bu. Kalau memang kelulusan ini bukan takdir Lala, Lala mohon keridhoan Ibu." Kata-kata itu meluncur begitu saja. Pengakuan seorang anak yang lelah, yang hanya berusaha bertahan agar tidak hilang di telan badai.


Aku mencoba berpikir positif dan memasrahkan segalanya. Jika memang aku tidak pantas untuk lulus, aku ikhlas. Aku sudah berjuang sejauh yang aku mampu. Aku meyakini bahwa tugasku sebagai manusia hanyalah berusaha sekuat tenaga, sedangkan hasil akhir adalah mutlak hak prerogatif Allah SWT.


Di lembar persembahan tesis itu, aku mengutip Haruki Murakami dari novel Kafka on the Shore. Kutipan tentang "badai". Karena itulah yang kurasakan. Badai itu bukan datang dari luar, badai itu ada di dalam diriku. Aku menutup mata, menutup telinga, dan berjalan menembusnya. Berdarah-darah.


"And once the storm is over,

you won’t remember how you made it through,

how you managed to survive.

You won’t even be sure,

whether the storm is really over.

But one thing is certain.

When you come out of the storm,

you won’t be the same person who walked in.

That’s what this storm’s all about."


Kebenaran kutipan itu makin terasa saat kemo siklus ketiga Ibu. Aku bertemu seorang kenalan yang kukenal sebagai host jastip di instagram, sesama pejuang kanker seperti ibu yang karena kuasa Allah kasurnya bersebelahan dengan Ibu. Kami berbagi cerita. Aku kagum pada ketegarannya. Namun, takdir berkata lain. Saat aku hendak menjenguknya di kemo berikutnya, suaminya meminta doa. Dua hari tak sadarkan diri, sosok wanita tangguh itu berpulang. Meski tak kenal dekat, hatiku hancur. Aku merasa berhutang pelajaran hidup darinya. Aku tak sempat mengucapkan terima kasih dan bahkan maaf. Kematian terasa begitu dekat, begitu nyata, mengingatkanku pada kecelakaan Ayah dulu.


Di tengah duka dan lelah itu, rasa syukurku menyeruak lebih besar.


Akhirnya, kabar itu datang. Aku lulus yudisium.


Dengan nilai yang amat sangat jauh dari sempurna, tapi penuh dengan rasa syukur yang tak terhingga. Kelulusan ini bukan karena kuatku, tapi karena Allah yang Maha Baik mengelilingiku dengan orang-orang baik.


Aku bersyukur atas suami yang sabar, anak yang menjadi pelita hati, dan lingkungan pertemanan yang positif. Aku tersadar, selama fase menjadi caregiver yang menguras emosi, teman-teman baikku selalu ada. Mereka yang sekadar bertanya kabar, mengirimkan doa, atau mendengarkan keluh kesahku tanpa menghakimi. Lingkungan yang suportif inilah yang menjadi bantalan saat aku jatuh, yang membuatku tetap waras dan tegar berdiri meski kaki gemetar. Allah sungguh Maha Mengetahui kapasitas hambanya, Ia titipkan kekuatan melalui senyum sahabat dan dukungan keluarga.


Teruntuk Suamiku dan anakku tersayang. Terima kasih telah menjadi rumah yang tak pernah pergi. Terima kasih telah memelukku saat aku merasa hancur.


Teruntuk Rahimahullah Ayah (Alfatihah untuknya) dan Ibu. Tesis ini adalah caraku melangitkan doa, agar nama yang Ayah berikan bisa menjadi amalan yang tak putus. Dan untuk Ibu, semoga kelulusan ini menjadi obat bahagia, penyemangat untuk sembuh dan kembali merayakan hidup.


Hari ini, saat menatap cermin, aku melihat sosok yang berbeda.


Aku bukan lagi anak kecil yang selalu kebingungan mencari arah, karena kini aku memiliki jangkar dan perahu yang kokoh—suami dan anakku—yang membuatku tak lagi terombang-ambing. Meski begitu, aku sadar inner child-ku mungkin masih dalam perjalanan untuk berdamai dengan pengalaman hidup, perlahan belajar menerima luka yang tertoreh, serta memaklumi segala keterbatasan Ibu dalam membesarkanku sendirian.


Aku bukan lagi orang yang terpaku diam, merasa kerdil dan tidak berdaya oleh segala keterbatasanku. Bukan pula individu yang lapar akan validasi orang sekitar.


Kini, aku hanya seorang hamba yang berusaha menjalani hidup hari demi hari. Mensyukuri setiap detik napas dan berkah yang masih Tuhan karuniakan.


Aku tetap bertahan, melangkah tegap, bukan karena aku hebat, melainkan karena aku percaya: selalu ada Kekuatan Besar yang akan menjagaku.


Pelukan paling hangat ternyata datang dari diri sendiri yang akhirnya berani berkata: "Terima kasih sudah bertahan, aku memaafkanmu.".


0 Response to ""Badai" dan Bunga yang Belajar Mekar"

Post a Comment