Luka Lama, Napas Baru, dan Ritme yang Memulihkan

Pernahkah kamu merasa tubuh tiba-tiba mematikan tombol dayanya sendiri akibat pikiran yang sudah terlalu bising? Dulu, alasan mengapa raga ini sering memberikan sinyal darurat tidak pernah benar-benar terurai karena perasaan seolah baik-baik saja selalu dikedepankan dalam menjalani rutinitas.


Aku sering sekali mengabaikan sinyal darurat yang dikirimkan oleh ragaku. Aku tipe orang yang merasa harus selalu bisa menanggung semuanya sendiri. Prinsipku waktu itu sederhana: yang penting rutinitas tetap jalan dan aku harus terlihat "baik-baik saja" di depan orang lain. Sampai akhirnya, tubuhku sendiri yang memprotes secara paksa. Tiba-tiba saja, aku sering diserang migrain parah, muntah, telinga berdenging, sampai pandangan mendadak kabur. Anehnya, hasil tes fisik dan pemeriksaan dokter saraf menunjukkan semuanya normal. Tapi nyatanya, badanku kaku, napas sesak, dan tanganku gemetaran. Rupanya, ragaku sudah terlalu lama dipaksa berada dalam survival mode. Aku memikul kelelahan yang tidak tampak, namun dampaknya sangat nyata.


Di tengah kebingungan itu, suamiku, Budi, hadir dengan cara yang luar biasa. Dia orang pertama yang menyadari kalau aku mulai kehilangan jati diriku. Melihatku yang semakin kewalahan, Budi menyarankan agar aku mengambil jeda sejenak. Jujur, awalnya aku ragu. Ada rasa takut kalau kenyamanan keluarga akan terganggu jika aku berhenti bekerja. Tapi Budi merangkulku dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia bilang, kalau aku sampai kehilangan diriku sendiri, aku justru akan kesulitan menjalani peran sebagai istri, anak dan seorang ibu. Dia memintaku untuk "egois" sejenak; fokus pada pemulihan diriku sendiri sebelum mengurus hal yang lain agar kelak dapat perlahan menata apa yang masih bisa kujalani.


Aku pun mengambil jeda. Namun, prosesnya ternyata tidak instan. Puncaknya terjadi ketika sebuah pesan singkat dari Ibu masuk ke ponselku. Entah kenapa, reaksi tubuhku di luar kendali. Aku kembali sesak napas, gemetar, dan lemas tak berdaya. Untuk sekadar bangun dari tempat tidur dan menghadapi hari saja rasanya aku sudah tidak punya daya. Di hari itu, aku akhirnya menyerah pada egoku dan mengakui satu hal: aku butuh bantuan profesional. Langkah pertamaku dimulai dengan berkonsultasi bersama seorang psikolog klinis yang begitu telaten mendampingiku, Mas Ari, Muhammad Ari Wibowo, S.Psi, M.Psi., Psikolog. Beliau memintaku mengisi sebuah kuesioner tentang masa lalu sebelum sesi dimulai. Saat membaca pertanyaannya satu per satu, dadaku terasa sesak. Pertanyaan-pertanyaan itu menguliti memori yang selama ini kusimpan rapat. Dan ketika hasilnya keluar dengan skor 8/10, aku terdiam.


Saat sesi konsultasi bersama Mas Ari dimulai, pertahananku runtuh seutuhnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Selama ini, aku selalu menyalahkan diriku sendiri dan menganggap diriku lemah karena gampang sekali merasa stres. Tapi dari ruang terapi itu, aku belajar satu bentuk penerimaan yang sangat melegakan. Aku tidak lemah. Beban yang kupanggul sendirian sejak kecil memang terlampau berat sehingga wajar kalau pada akhirnya ragaku menyerah. Karena kondisi fisikku sudah sangat terdampak, Mas Ari menyarankan agar proses psikoterapiku didampingi dengan pengobatan medis. Aku pun dirujuk kepada seorang psikiater yang luar biasa mendengarkan, dr. Dimas Wirawan Wicaksono, Sp.KJ. Melalui bantuan dan evaluasi medis dari dr. Dimas, sistem sarafku ditopang agar emosiku tidak lagi terombang-ambing secara ekstrem. Hari itu aku menerima kenyataan yang membebaskan: ternyata fisikku tidak sekuat itu, dan tanpa kusadari, jiwaku sudah tak sanggup lagi memaksakan diri menjalani apa yang selama ini kujalani.


Aku mulai belajar memelankan langkah, menetapkan batasan yang sehat, dan mengelola energiku. Tentu saja, realita di lapangan tidak selalu semulus teori karena penyusunan tesisku sempat mandek dan lewat tenggat waktu. Ada ketakutan luar biasa yang menyergapku hanya untuk sekadar mengirim pesan kepada dosen pembimbing utamaku, Prof. Dr. Ratri Wahyuningtyas, S.T., M.M. Tapi, dengan napas yang mulai kutata pelan-pelan, aku memberanikan diri. Aku memilih untuk jujur. Kukirimkan pesan kepada Prof. Ratri, memohon izin untuk tetap menyelesaikan tesis ini di tengah proses pemulihanku. Di akhir pesan itu, aku menuliskan sebuah kalimat dari lubuk hatiku yang paling dalam: "Saya merasa ini satu-satunya jalan saya untuk mengembalikan rasa percaya diri saya, bahwa masih ada hal yang dapat saya selesaikan." Respons beliau benar-benar menghangatkan hati karena aku langsung diizinkan mengganti topik penelitian dan didoakan agar lekas pulih.


Dukungan itu ternyata tidak berhenti di sana. Di penghujung jalan, tepat saat aku merasa tidak sanggup melanjutkan perjalanan tesis, dan mengirimkan surat pengunduran diri, Ketua Program Studi menghubungiku, menanyakan kesiapan apabila aku diberi kesempatan selama 3 bulan untuk menyelesaikan studiku. Aku sebenarnya sudah tidak ingin melanjutkan. Namun, lagi-lagi, suamiku, Budi menyemangatiku dengan kata-kata..


"Rasanya kalau kamu bisa menyelesaikan apa yang sempat kamu mulai, itu akan lebih baik untuk kepercayaan diri kamu.. Atau mungkin juga bisa menyemangati kita di kemudian hari kalau melihat kembali ke kondisi sulit ini.."

Akhirnya aku mencoba menghubungi Ketua Program Studi, Bu Yuhana Astuti, S.Si., S.E., M.T., M.Agr., Ph.D.. Aku menyampaikan niatku untuk menjalani kesempatan akhir yang telah diberikan, karena merasa mungkin tidak semua orang bisa beruntung mendapatkan kesempatan ini. Di luar dugaan, di masa singkat itu, aku diberikan pembimbing kedua. Saat diminta menghubungi beliau, perasaanku gamang, antara penuh harap, namun juga penuh kecemasan atas respon beliau menerima mahasiswi bimbingan di detik akhir masa studi. Namun, kecemasan itu perlahan mencair karena kesediaan beliau untuk mendengarkan proses yang sudah kulalui dan perlahan memberi arahan atas pikiranku yang sulit fokus dalam penelitian.


Setelah segala drama sidang yang hasil akhirnya kuserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, pembimbing tesis keduaku, Dr. Fariz, S.E., M.M., mengirimkan pesan yang membuatku menangis haru. Beliau adalah sosok yang datang paling akhir dalam proses ini, tapi paling banyak memberiku dukungan, baik lewat arahan penelitian maupun pengertian terkait kondisiku. Pak Fariz menyemangatiku dan menuliskan, "Alhamdulillah. Terharu saya. Hebat luar biasa." Di titik itu, aku menyadari satu hal yang sungguh indah. Saat kita berani jujur dan merangkul kerentanan diri kita sendiri, dunia ternyata bisa menjadi tempat yang sangat peduli.


Kini, melihat ke belakang, aku sangat bersyukur karena pernah mengizinkan diriku untuk hancur sejenak, mengambil jeda, dan berjalan pelan. Hari ini, tesis itu sudah selesai dan momen yudisium sudah terlewati, gelar baru yang kuraih itu bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan piala keberanianku bertahan hidup.


Seperti pesan penutup di akhir kuesioner yang kuisi di awal terapiku: "Perjuanganmu baru dimulai. Semoga kamu setia pada pemulihan dirimu, dan dapat menemukan dirimu kembali." Langkahku mungkin memang belum secepat dulu, tapi setidaknya sekarang aku berjalan dengan ritme yang lebih sehat. Aku mulai belajar merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang tak terlihat oleh orang lain. Pelan, tapi pasti pulih.


0 Response to "Luka Lama, Napas Baru, dan Ritme yang Memulihkan"

Post a Comment