Tentang Duka yang "Asing" serta "Jejak" yang mungkin (akan) ditinggalkan

Hari ini rasanya aneh. Mendengar kabar duka tentang Vidi Aldiano yang berpulang, tiba-tiba ada rasa sesak yang mampir dan menetap di dada. Padahal kenal juga nggak. Tapi buat kita yang sehari-harinya berhadapan langsung dengan kata "kanker", kabar seperti ini rasanya kayak ditarik paksa ke realitas yang paling kita takutin. Kematian rasanya jadi ngingetin kalau dia sebenarnya selalu ada di dekat kita.

Otomatis, ingatanku langsung melayang ke lorong-lorong rumah sakit. Ke wajah-wajah rekan seperjuangan ibu yang cuma sempat kusapa senyumnya dua-tiga kali di ruang tunggu, lalu tiba-tiba hilang... Kehilangan kawan seperjuangan—meski cuma kenal sekejap dan pertemuannya bisa dihitung jari—ternyata ninggalin lubang duka yang beneran nyata. Mungkin karena di ruang perawatan itu, kita semua diikat oleh satu ketakutan dan harapan yang sama. Setipis itu ya, batas antara ada dan tiada.

Saking pengennya paham kenapa duka ini rasanya "asing" tapi begitu nyata, aku sempat cari tahu. Ternyata ada penjelasannya: duka parasosial. Gemini AI sempat merangkum alasannya, dan pas aku baca, rasanya masuk akal banget.

Katanya, ada beberapa alasan kenapa kita bisa berduka untuk orang yang nggak kita kenal secara personal

Mengapa Kita Berduka untuk Seseorang yang Tidak Dikenal?

1. Hubungan Parasosial: Otak kita dirancang untuk membentuk koneksi. Kalau kita rutin dengar suaranya, baca karyanya, atau lihat wajahnya di layar selama bertahun-tahun, otak memproses sosok itu sebagai sesuatu yang familiar. Secara emosional, mereka udah jadi bagian dari rutinitas hidup kita.

2. Mereka Menjadi Simbol: Figur publik sering mewakili fase tertentu dalam hidup kita. Lagu atau karyanya mungkin nemenin kita pas lagi patah hati atau stres. Jadi, kepergian mereka kerasa kayak hilangnya kepingan masa lalu kita sendiri.

3. Kita nggak cuma nangisin kepergian mereka hari ini, tapi juga berduka untuk karya atau momen yang nggak akan pernah terwujud di masa depan.

4. Pengingat akan "Hidup yang Fana": Kematian tokoh publik, apalagi kalau perjalanannya panjang atau mendadak, sering memaksa kita menghadapi kenyataan kalau hidup ini rapuh. Ini yang sering memicu kecemasan atau kesedihan yang lebih dalam.


Di penjelasannya juga disebutin cara memproses duka ini. Mulai dari memvalidasi perasaan sendiri (nggak usah menghakimi diri kalau emang pengen nangis), merayakan warisan karyanya, mencari teman ngobrol atau komunitas yang sepemikiran, sampai membatasi baca berita biar nggak doomscrolling dan trauma sekunder. Dan yang paling penting: mengubah duka itu jadi tindakan positif.

Mungkin dengan semua perasaan yang numpuk, dan karena belakangan tidurku juga jarang nyenyak gara-gara mimpi tentang perpisahan dan kematian lumayan sering datang berkunjung. Kayaknya alam bawah sadarku ngasih sinyal lagi kalo badanku dan mentalku sebenarnya capek.

Lagi-lagi kerasa kalo jadi caregiver itu... rasanya hampa.. Bukan cuma fisik yang rontok, tapi mentalku dipaksa buat terus-terusan ada di mode "siaga satu". Seperti obrolan dengan sesama rekan caregiver, seringnya rasa kosong yang susah banget dijelasin ini mostly emang cuma bisa di rasain kalo udah ngejalanin jadi dedicated caregiver.. Kan konon katanya "you never walked alone" ..

Orang-orang akan selalu datang dan nanya, "Ibu gimana kabarnya sekarang?" Tapi, hampir nggak ada yang benar-benar menatap mata kita dan nanya, "Kalau kamu gimana? Kamu capek nggak hari ini menanggung ini semua?" Belum lagi mendengar kata berkesan semangat dengan ucapan "Yang Sabar Ya.. " Tiap denger itu rasanya langsung campur aduk.. Antara ingin bertanya "harus sabar yang seperti apalagi?" atau malah menambah beban rasa bersalah kalau diri ini lagi ngga sanggup untuk sekedar bersabar..

Kadang pengen banget teriak kalau capek. Tapi ujung-ujungnya, lagi-lagi yang datang malah rasa bersalah yang luar biasa. "Masa aku ngeluh capek sih, kan ibu yang lagi taruhan nyawa." Siklus perasaan itu yang terus berputar setiap hari di kepalaku.

Di titik ini, jadi sering ngaca dan nanya ke diri sendiri. "Kalau suatu hari nanti giliranku yang tiba, apa orang-orang bakal sedih? Gimana ya mereka bakal mengenang aku? Apa aku ini udah jadi manusia yang cukup baik? Apa peranku selama ini udah cukup berarti?"

Kita terlalu sibuk mikirin legacy atau pencapaian besar apa yang mau ditinggalin buat dunia, sampai lupa kalau warisan paling abadi itu sebenarnya sesederhana jejak perasaan yang kita tanam di hati orang lain. Aku nggak tahu apakah peranku sudah sempurna, rasanya sih jauh dari itu. Tapi aku cuma bisa berharap... semoga keberadaanku di antara orang-orang yang aku kasihi selama ini cukup memberikan warna di hari-hari mereka.

Semoga semua senyum dan usaha-usaha kecilku untuk membersamai mereka bisa dirasakan sebagai bentuk cinta yang paling tulus. Dan kalaupun suatu hari nanti raga ini udah nggak ada, aku berdoa semoga cintaku akan terus terasa hangat di relung hati keluargaku dan sahabat-sahabatku. Setidaknya, sebagian dari diriku dan isi kepalaku akan terus hidup lewat tulisan-tulisan yang pernah kubuat—semoga itu bisa jadi pelukan pengganti di saat aku udah nggak bisa memeluk mereka secara fisik.

Rangkaian perasaan ini tiba-tiba ngingetin aku sama sesi obrolan terakhir bareng Dokter Dimas. Beliau berpesan sesuatu yang nancep banget: "Jangan lupa untuk selalu menyiapkan diri untuk berduka... Lakukan apa yang bisa kamu lakukan biar nggak ada rasa Penyesalan... Karena tahap berduka yang paling sulit dilalui adalah bagian penyesalan... "

Dan ternyata semesta seolah lagi ngajak ngobrol. . Kemarin aku baru aja menang dapat tiket nonton gratis film "Senin Harga Naik"

dapet traktiran dari minka.. kisahasuhremaja_kasur, yang bikin siniar soal Ngobrol santai tentang serunya jadi orang tua dari anak pra remaja & remaja.. Semua kejadian ini bikin pikiranku berusaha merangkai pesan... apa ya yang sebenarnya pengen Allah sampaikan lewat rentetan kejadian ini?

Lalu siang tadi, Tante Meriam Bellina juga sempat sharing pesan yang sangat mengena. Pesan yang kebetulan dulu pernah ibu singgung sedikit..

"Kalau sayang sama seseorang ya ungkapin, tunjukin... jangan tunggu sakit, jangan tunggu nanti-nanti... kalau udah nggak bisa nyampein, nanti nyesel."

Rasanya aku ingin merajut benang merah agar pesan-pesan tersirat itu tersambung dan memiliki makna dalam hidupku...

Sekali lagi, malam ini, aku mau mengizinkan diriku buat nggak jadi si paling kuat. Boleh capek, boleh nangis, boleh merasa takut. Nggak apa-apa. Besok, kita coba melangkah pelan-pelan lagi. Sambil terus mengingat untuk menyampaikan sayang, sekarang, hari ini juga.

0 Response to "Tentang Duka yang "Asing" serta "Jejak" yang mungkin (akan) ditinggalkan"

Post a Comment